Ekonomi

Sudah Sampai ke Amerika, Taplak Kain Tenun Desa Tumanggal Digagas Menjadi Kerajinan Khas Purbalingga

PURBALINGGA, detakjateng.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purbalingga melalui Dinas Koperasi dan UKM (Dinkop UKM) Purbalingga menggagas kain tenun khas Desa Tumanggal untuk dijadikan sebagai kerajinan atau craft. Desa Tumanggal memiliki potensi yang luar biasa karena menjadi salah satu sentra penghasil benang antih dan kain tenun Tumanggal. Kain Tenun Tumanggal ini bisa dijadikan sebagai ciri khas dari Purbalingga karena keunikannya.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinkop UKM Purbalingga, Budi Susetyo saat Kegiatan Cipta Kreasi Kerajinan Khas Purbalingga Berbasis Kain Tenun Tumanggal, Rabu (5/8).

Menurut Budi, kain-kain tenun Tumanggal ini sebetulnya bisa menjadi ciri khas kerajinan Purbalingga, tekstur benang dan kain tenun yang dihasilkan juga berbeda dengan benang dan kain pada umumnya terlihat pada tekstur kainnya.

Agar kain tenun ini bisa menjadi bahan dasar aneka kerajinan, Budi mengajak para pengrajin dan desainer Purbalingga untuk bisa menciptakan kerajinan dari kain Tumanggal. Kerajinan yang bisa dibuat dari kain tenun Tumanggal seperti tas, dompet, sepatu, pernak-pernik dan hantaran pernikahan.

“Pada tahap awal ada 10 crafter (pengrajin- red) yang kami dorong untuk menciptakan aneka kerajinan dengan bahan dasar kain tenun Tumanggal,” terangnya.

Setelah para pengrajin ini sudah mulai berkreasi dengan kain Tumanggal, pihaknya juga akan mengajak para desainer Purbalingga untuk menciptakan desain-desain pakaian yang menggunakan kain Tumanggal. Desainer Purbalingga yang tergabung dalam Asosiasi Fashion dan Desainer Purbalingga (Afdega) nantinya bisa merancang dan membuat desain pakaian yang menggunakan kain Tumanggal.

“Tentunya untuk membuat desain pakaian ini juga harus menyesuaikan dengan tekstur dari kain Tumanggal itu sendiri, yang bisa dibuat dari kain tumanggal sendiri seperti pakaian luar atau kita kenal outerwear,” tambah Budi.

Surati, Kepala Desa Tumanggal sekaligus generasi kedua pembuat benang Tumanggal menyambut baik program yang dilakukan oleh pemerintah. Apalagi di saat pandemi covid-19, terjadi penurunan omset pada penjualan kain Tumanggal.

“Penurunan omset sangat terasa apalagi sebelum adanya covid-19, kain tenun Tumanggal ini kami kirim ke Bali sebagai pasar utamanya namun karena covid-19 pemasarannya terhenti,” tutur Surati.

Meskipun begitu, Surati bersama dengan warga Desa Tumanggal tetap bekerja memintal benang antih dan juga menenun kain Tumanggal. Saat ini, ia menuturkan sedang dalam proses pembuatan taplak meja pesanan Amerika.

“Alhamdulillah kami menerima pesanan dari Amerika untuk pembuatan taplak meja, setelah selesai proses penenunan, langsung dijahit dan dibentuk menjadi taplak meja,” pungkasnya. (Lilian TK/AN) 

Lainnya

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

15 − seven =

Back to top button