Ekonomi

Cegah Kebocoran, Pemkot Magelang Luncurkan E-Retribusi Pedagang Pasar Kebonpolo

MAGELANG, detakjateng– Guna mencegah kebocoran, Pemerintah Kota (Pemkot) Magelang meluncurkan retribusi elektronik (E-Retribusi) bagi pedagang Pasar Kebonpolo Kota Magelang.  Sebelumnya,  hal serupa sudah dilakukan di pasar Cacaban. 

“Ini peluncuran yang kedua, kita berharap seluruh pasar akan menerapkan hal serupa. Penerapan E- Retribusi merupakan bagian dari Smart City,” kata Walikota Magelang Sigit Widyonindito, usai melaunching E-Retribusi di Pasar Kebonpolo Kota Magelang, Senin (16/10/2020).

Wali Kota Magelang, Sigit Widyonindito mengapresiasi kemitraan dengan Bank Jateng terkait penerapan e-retribusi kedua di Pasar Kebonpolo ini. Ia menilai, mau tidak mau di era maju dan serba teknologi ini sudah menuju ke pembayaran nontunai.

“Gerakan nontunai sudah dimulai sejak tahun 2014. Kita lakukan itu secara bertahap dan untuk e-retribusi sudah dimulai di Pasar Cacaban tahun 2019 lalu. Kita lakukan bertahap, karena memang tidak semua bisa menerima penerapan ini,” jelasnya.

Sigit pun mengajak masyarakat untuk mulai gerakan nontunai. Apalagi, di masa pandemi ini pembayaran nontunai salah satu cara mencegah penyebaran Covid-19.

“Dengan pembayaran nontunai, kita tidak perlu mambawa lembaran uang yang banyak. Saya minta ke pedagang di pasar ini untuk memberikan pemahaman ke konsumen agar membiasakan diri pembayaran nontunai,” terangnya.
Disisi lain, hasil penarikan retribusi juga sudah langsung masuk ke bank. Hal ini dilakukan guna mencegah terjadinya kebocoran.

Pada kesempatan itu, Sigit mencoba mengoperasikan alat bernama MPos yang digunakan untuk menarik iniretribusi ke pedagang. Didampingi petugas, Sigit menerima pembayaran retribusi dari pedagang dengan cara menempelkan kartu ke mesin MPos dan memberikan bukti pembayarannya.

Kepala Disperindag Kota Magelang, Catur Budi Fajar Sumarmo mengatakan, penerapan E-Retribusi ini dalam rangka ikut menyukseskan gerakan pembayaran nontunai. Termasuk memudahkan administrasi dan mengoptimalkan penerimaan retribusi. 

“E-Retribusi ini mengedepankan transparansi. Penerapan pertama di Pasar Cacaban pada Mei 2019 lalu dengan 110 kartu dan tiap pedagang mendapat top up Rp 10.000/kartu. Penerapan di Pasar Kebonpolo ini untuk 333 kartu dan top up Rp 5000/kartu,” ujarnya.

Lebih lanjut, E-Retribusi ini merupakan hasil kerja bareng dengan Bank Jateng dan Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD). Bank Jateng memfasilitasi alat MPos, cetak retribusi, NRC, dan top up saldo.

“Termasuk memfasilitasi peluncuran penerapan e-retribusi kedua ini di Pasar Kebonpolo. Dengan adanya e-retribusi ini, diharap penarikan retribusi lebih maksimal dan memudahkan petugas saat menariknya dari pedagang,” katanya.

Sementara itu, Kepala UPT Pasar Kebonpolo, Teguh Karyawan menyebutkan, total pedagang ada 333 pedagang. Terdiri dari pedagang yang di kios, los, maupun plataran.

“Retribusi kita setiap hari sekitar Rp 500.000-Rp 550.000. Retribusi berbeda-beda untuk kios, los, maupun plataran. Selama dua bulan April-Mei kita bebaskan retribusinya, karena pandemi. Sekarang sudah normal lagi, tapi pendapatan berkurang sedikit,” ungkapnya. 

Bu Nur, pedagang beras mengatakan, dengan e retribusi ini memudahkan pedagang membayar retribusi. ” Jadi saya sudah memberi saldo, tinggal dipotong setiap harinya. Praktis dan mudah,” ujar Bu Nur. (Watie/Pt)

Lainnya

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

fourteen − 12 =

Back to top button