Hukum, Kriminal Dan Militer

Diduga Gelapkan Rp 1,5 Miliar, Mantan Karyawan Bank Salatiga Dipolisikan

SALATIGA, detakjateng.com – Kasus dugaan penggelapan ditubuh PD BPR Bank Salatiga terus menguak pelaku baru. Setelah mantan Direktur Habieb Sholeh divonis bersalah oleh Pengadilan Tipikor Semarang, giliran mantan karyawan berinisial Nar (43) dipolisikan management dengan laporan dugaan penggelapan dalam jabatan.

Hal ini dibenarkan Direktur PD BPR Bank Salatiga, Darto Supriyadi. Kepada wartawan saat dikonfirmasi Jumat (2/10), Darto Supriyadi menerangkan pihaknya telah menguasakan kepada pengacara untuk melaporkan eks karyawan berinisial Nar tersebut. “Kami sudah menguasakan kepada pengacara Al Ghozali Hide dari Kantor Hukum HIDELAW Solo dan Tabanan, Bali,” tandasnya.

Pihaknya juga ingin Agara masyarakat tahu bahwa manajemen PD BPR Bank Salatiga tidak devensif (bertahan). “Kami manajemen jangan hanya dikatakan devensif (bertahan) saja. Kami pro aktif dan sudah dilaporkan ke polisi untuk Nar ini,” tegasnya. 

Sedangkan Kuasa Hukum PD BPR Bank Salatiga, Al Ghozali Hide dari Kantor Hukum HIDELAW Solo dan Tabanan, Bali saat dikonfirmasi mengungkapkan Nar saat aktif bekerja pernah memegang jabatan Kepala Kas PD BPR  Bank Salatiga dan terakhir jabatan Kasubag Kredit.

Dan yang bersangkutan dilaporkan dugaan penggelapan dalam jabatan yang merugikan keuangan perbankan sebesar kurang lebih Rp 1,5 miliar. “Terlapor Nar ini sebenarnya sudah mengakui perbuatannya dan diakui dalam sumpah di pengadilan dan segera diserahkan bukti agar terpenuhi dua alat bukti,” paparnya.

Atas perbuatannya, Nar tidak hanya merugikan keuangan PD BPR Bank Salatiga sebagai korban dari kejahatan persona perbankan sebesar kurang lebih Rp 1,5 miliar tapi juga masyarakat (nasabah). Sejuah ini, Al Ghozali Hide terus membantu pihak Kepolisian memperdalam bukti dan saksi-saksi. “Sebenarnya sudah ada titik terang, tetapi kami harus tertib KUHAP,” tandasnya.

Sebelumnya, kasus penggelapan ini terkuak ketika puluhan korban PD BPR Bank Salatiga sempat mengadu ke Kantor DPRD Salatiga tahun lalu karena tidak dapat mengambil uang mereka sendiri di Bank milik Pemkot Salatiga tersebut dalam bentuk tabungan dan deposito.

Saat itu, para korban tergabung dalam paguyuban Korban Bank Salatiga tertanggal 29 April 2019 sempat diterima Ketua DPRD Salatiga 6 April 2019. Mereka juga melayang surat berisikan keluhan para nasabah PD BPR Bank Salatiga.

Salah satu korban perwakilan korban PB BPR Bank Salatiga Lianawaty Wicaksono menerangkan paguyupan Korban Bank Salatiga beranggotakan lebih dari 20 orang nasabah.

Para korban ini mengaku dipersulit pihak management untuk mengambil uang mereka sendiri. Total dana yang ‘nyantol’ di PD BPR Bank Salatiga hingga Rp 25 miliar. “Kami mau uang yang kami titipkan bisa kembali. Susah payah nyarinya,” tandas Liana kepada Wawasan, Kamis (9/5) tahun lalu (Cattleya/AN)

Lainnya

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seventeen − four =

Back to top button