Pemerintahan

Gandeng Palang Merah Jepang, PMI Kebumen Gelar Program Pengurangan Risiko Bencana

KEBUMEN, detakjateng – Bupati KH Yazid Mahfudz meluncurkan Program Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Masyarakat  Dukungan Japanese Red
Cross Society (JRCS). Peluncuran dilakukan di Pendopo Rumah Dinas Bupati Kebumen, Senin (2/11/2020).

Program pengurangan resiko bencana berbasis masyarakat itu diselenggarakan atas kerjasama PMI dengan  Japan Red Cross Society (JRCS) atau Palang Merah Jepang.

Acara itu dihadiri  Ketua Bidang Penanggulangan Bencana PMI, Letjen
TNI (Purn) Sumarsono,  Ketua PMI Provinsi Jateng H Imam Triyanto dan Ketua PMI Kebumen Sabar Irianto, serta Perwakilan dari Japanese Red Cross Society. Selain itu. juga dihadiri oleh sejumlah pejabat terkait, para camat dan perwakilan kepala sekolah.

“Saya menyambut baik kegiatan ini. Terimakasih saya ucapkan kepada JRCS atas kerjasama dan dukungannya terhadap penanggulangan bencana di Kabupaten Kebumen,” kata Yazid Mahfudz, dalam sambutannya.

Bupati mengungkapkan, Kabupaten Kebumen memiliki tingkat kerentanan
tinggi terhadap ancaman bencana alam. Baik banjir, tanah longsor, tsunami, maupun angin ribut. Seperti yang terjadi saat ini, ada banjir dan tanah longsor.

“Penanggulangan bencana dan pengurangan risiko bencana merupakan
tanggungjawab semua pihak. Oleh karena itu, kerjasama antara pemerintah dan pihak-pihak non pemerintah merupakan suatu hal penting dalam upaya pengurangan risiko bencana,” ujarnya.

Ketua PMI Kebumen Sabar Irianto, menjelaskan  program ini dalam rangka
menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya memahami bahaya,
kerentanan, kapasitas dan risiko bencana yang ada di lingkungan mereka. “Kami pertaruhan PMI Kebumen untuk keberhasilan program ini,” tegasnya.

Menurutnya, program ini momennya pas dengan adanya potensu megatrust
yang mengancam wilayah Kabupaten Kebumen. “Karena masayrakat pesisir kita siapkan kapasaitas  mereka untuk
menghadapi bencana,” ucapnya.

PMI bersama JRCS akan melakukan pendampingan selama 3 tahun untuk
merubah budaya mengenal bencana. “Seharusnya ini sudah dilakukan sejak April lalu, karena adanya Covid-19 baru kita lakukan saat ini,” imbuhnya.

Ketua Bidang penanggulangan PMI Sumarsono, mengatakan program
kerjasama pertama dilaksanakan di Banten, kemudian berlanjut di Bengkulu, Malang dan kali ini di Kebumen. “Saya berharap ini kemudian direplikasi di daerah lain,” tandasnya. (Farhan/AN)

Lainnya

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

four + eight =

Back to top button