Berita UtamaPolitik

Bupati Blora Diputuskan Bersalah, Bawaslu Serahkan ke Mendagri

BLORA, detakjateng – Bupati Blora Djoko Nugroho diputus melakukan pelanggaran Pilkada saat pembagian bantuan sosial (bansos) kepada korban angin puting beliung di Desa Kutukan, Kecamatan Randublatung. Dalam pembagian itu, bupati diduga kuat menyelipkan kalender istrinya Umi Kulsum yang maju sebagai calon bupati di Pilkada 2020.

Ketua Bawaslu Blora, Lulus Mariyonan mengatakan, berdasarkan pleno anggota telah memutuskan meneruskan dugaan pelanggaran hukum lainnya ke Mendagri untuk Terlapor I, Bupati Blora Djoko Nugroho dan ke KASN (Komisi Aparatur Sipil Negara) untuk Terlapor II, Budiman sebagai Camat Randublatung dan Terlapor III, Mulyowati selaku Kabag Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Blora.

“Sesuai mekanisme penanganan pelanggaran Bawaslu, karena ada dugaan pelanggaran hukum lainnya, Bawaslu Blora rekomendasikan pelanggaran tersebut ke Mendagri untuk bupati, dan KASN untuk ASN.” Kata Lulus, Sabtu (21/11/2020).

Pelanggaran bupati dilakukan berkaitan pelanggaran UU 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah. Sementara ASN berkaitan pelanggaran UU 5/2014 tentang ASN, Peraturan Pemerintah 42/2004 tentang pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS, dan Peraturan Pemerintah 53/2010 tentang disiplin PNS.

Sementara berdasarkan pembahasan sentra Gakkumdu Kabupaten Blora pada Jumat (20/11) kemarin terhadap empat terlapor dalam kasus tersebut, belum memenuhi unsur pidana dan belum cukup alat bukti.

“Kami telah lakukan pembahasan bersama Sentra Gakkumdu terkait pembagian bantuan sosial korban angin puting beliung di Kutukan Kecamatan Randublatung. Hasilnya, unsur pidana pemilihan belum terpenuhi dan alat bukti belum cukup,” terang Lulus.

Sebelumnya, pada Selasa (17/11) lalu, Bawaslu serentak melakukan pemanggilan terhadap Bupati Djoko Nugroho, Kabag Prokompim Setda Blora, Mulyowati serta Camat Randublatung Budiman. Usai menjalani pemeriksaan oleh Bawaslu, Kokok sapaan Bupati membantah telah menyebarkan kalender bergambar istrinya kepada warga.

“Itu tidak benar. Saat hanya menyerahkan simbolis lalu pergi,” katanya.

Bahkan, saat pembagian itu, ia mengaku banyak warga yang melihat isi sembako. “Sembako itu sudah dibongkar sebelum saya datang. Banyak warga yang sudah melihat paket bansos itu. Jadi itu tidak benar,” sangkalnya. (Ramananda/TR).

Show More

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button