Lingkungan Dan Pertanian

Cerita Kejayaan Tembakau Purbalingga

PURBALINGGA, detakjateng – Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Purbalingga, satu desa yang berada tepat di Kaki Gunung Slamet memiliki tanah yang subur dan dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk bercocok tanam. Desa Kutabawa terkenal akan sayurannya yang segar dan melimpah karena didukung dengan tanahnya yang subur dan luas.

Di balik sayuran yang ditanami di lereng Gunung Slamet ada cerita tentang tembakau, tanaman yang pernah mencapai puncak kejayaannya. Namun, seiring berjalannya waktu tanaman tembakau saat ini hanya dijadikan sebagai konsumsi lokal tidak lagi dijual ke pabrik karena berkurangnya lahan dan petani yang menanam tembakau.

Fakhrudin salah satu petani tembakau dari Dusun Bambangan, Desa Kutabawa yang masih bertahan mengatakan tembakau pernah mengalami kejayaannya pada rentang waktu 1945 sampai 1985. Namun, kejayaan tembakau tidaklah berlangsung lama karena tergeser dengan tanaman sayuran.

“Dulu tembakau Purbalingga masuknya ke pabrikan karena 99 persen warga di sini merupakan petani tembakau tapi karena tergeser jaman, lahan berubah, yang tadinya perkebunan tembakau dan teh sekarang menjadi sayuran,” kata Fakhrudin saat ditemui detakjateng, Sabtu (31/10).

Meskipun demikian tembakau Purbalingga masih tetap ada, walaupun dengan jumlah yang sangat sedikit. Salah satu faktor yang mempengaruhi menurunnya jumlah petani tembakau disebabkan karena harga jual di pasaran sehingga sebagian besar petani tembakau beralih ke tanaman sayuran yang lebih cepat panen dan menghasilkan.

“Sebagian besar memang rata-rata itu beralih itu karena kendala di harga. Tembakau saat ini di wilayah kami harga sangat rendah kisaran Rp 40 ribu – 50 ribu per satuan ukuran atau eleran. Padahal idealnya harapan petani diangka Rp 75 ribu – 80 ribu per elerannya,” ujarnya.

Melihat keberlangsungan tembakau Kutabawa yang harganya terus menurun, tak lantas menyurutkan semangat petani tembakau untuk tetap bertahan. Menurut Fakhrudin, setiap tahun petani tembakau rutin menanam tembakau walau dengan jumlah sedikit dan sistem tumpang sari dengan sayuran.

“Kenapa petani tembakau masih bertahan karena yang pertama untuk kebutuhan sendiri atau kebutuhan lokal, kemudian kami ingin mempertahankan nilai seninya bertani tembakau karena beda dengan tanaman lain,” terang Fakhrudin.

Tanaman tembakau ini dipertahankan secara turun-temurun, bahkan sebelum adanya tanaman lain tembakau Kutabawa sudah menjadi rutinitas bertani warga Desa Kutabawa yang saat ini sudah lanjut usia. Bahkan dari petani mauoun warga Desa Kutabawa yang sudah terbiasa dengan rasa dan aroma tembakau Kutabawa tidak ingin mengkonsumsi tembakau dari luar.

“Karena mungkin rasanya kurang dan beda, lebih kuat aroma dan rasanya, jadi mereka lebih memilih untuk mengolah tanaman tembakau sendiri dan untuk konsumsi sendiri,” ungkapnya.

Fakhrudin menjelaskan di tahun 2020 secara akumulasi kurang lebih ada 7 – 8 hektar yang saat ini masih dijadikan untuk budidaya tembakau, itupun satu tahun sekali ketika memasuki musim kemarau. Setelah masuk musim penghujan tanaman tembakau akan dibersihkan dan berganti dengan tanaman sayuran.

“Setelah memasuki musim penghujan tanaman tembakau akan dibersihkan jika pun ada itu akan dibiarkan membusuk dengan sendirinya, karena akan berpengaruh pada rasa tembakau yang dihasilkan,” tutur Fakhrudin.

Ia menerangkan tembakau Kutabawa sebetulnya mempunyai cita rasa dan aroma yang khas, rasanya yang tinggi dan berat yang dipengaruhi oleh faktor ketinggian dan proses pengolahannya. Salah satu varietas unggulan dan masih dipertahankan secara turun temurun yakni varietas genjah kenanga karena aroma dan rasanya sesuai dengan yang diinginkan serta perawatannya yang mudah.

“Pasaran tembakau Kutabawa saat ini di seputaran pasar lokal di Purbalingga seperti Pasar Bobotsari, dan beberapa Pasar yang ada di wilayah Purbalingga serta Pasar Belik, Kabupaten Pemalang,” pungkasnya. (Lilian Kiki Triwulan/Pt)

Show More

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button