Berita UtamaPolitik

Bawaslu Rembang Masih Kebanjiran Pengaduan Dugaan Pelanggaran Pilkada

REMBANG, detakjateng – Hingga saat ini, Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Rembang masih kebanjirn laporan dugaan pelanggaran Pilkada dari kubu pasangan calon no 1, Harno–Bayu Andriyanto.

Laporan terbaru adalah pengaduan yang dilayangkan pasangan no 1 terkait dengan dugaan intimidasi terhadap e-warung kecamatan Sluke oleh calon bupati no 1, H Abdul Hafidz.

Mulai Kamis kemarin (28/1), 13 saksi dan terlapor Abdul Hafidz sudah di periksa Bawaslu.

Usai di periksa, H Abdul Hafidz mengatakan, pihaknya telah memberi keterangan apa adanya kepada Bawaslu. “Yang jelas laporan itu tidak benar, saya tidak pernah mengintimidasi E-warung di Sluke,” tandas Hafidz.

Ketua Bawaslu Rembang, Totok Suparyanto kepada media Jumat sore (29/1/2021) membenarkan hal itu. Dia mengatakan, sejak rekapitulasi suara Pilkada ditetapkan KPU, 15/9/020 hingga sekarang, total ada 53 kasus dugaan pelanggaran yang diterima Bawaslu.

“Pada 15 Desember 2020 ada 30 an kasus, 29/12/2020 (6 kasus), 8/1/2021(7), 22 Januari ada 1 kasus dan terakhir menyusul lagi 16 kasus. Tapi setelah kami verifikasi, dari 16 kasus itu 7 kasus sudah pernah ditangani dan selesai, jadi tinggal 9, “ terang Totok.

Menurut Totok, rentetan laporan ini akibat kelemahan Undang-Undang Pilkada, karena tidak diatur batasan waktu laporan. Melainkan, bunyinya sejak diketahui.

“Misal dugaan pelanggaran diketahui baru hari ini, ya bisa dilaporkan, meski Pilkada sudah lama selesai, “ terangnya.

Imbas dari kondisi tersebut, Bawaslu Kabupaten Rembang masih saja sibuk, padahal mayoritas Bawaslu di daerah lain sudah menyelesaikan laporan akhir.

Anggaran Bawaslu Kabupaten Rembang sudah hampir habis, tapi laporan yang ditangani masih menumpuk. Bahkan harus dibantu oleh Bawaslu Provinsi Jawa Tengah.

“Ini memang resiko jabatan, karena Bawaslu nggak boleh nolak laporan. Nanti untuk penanganan dugaan pelanggaran yang terbaru 9 kasus itu, Bawaslu Jawa Tengah ikut membantu, soalnya staf kita juga terbatas, “ paparnya.

Totok Suparyanto menambahkan, ada laporan yang selesai ditangani, ternyata tidak sesuai fakta. Bahkan dari hasil pemeriksaan saksi, ada dugaan kuat mengarah pada setingan, karena iming-iming uang.

Ia mencontohkan pihaknya menerima alat bukti sebuah rekaman video seseorang di Kecamatan Lasem mengaku tidak menerima undangan sehingga tidak bisa menggunakan hak pilih. Akibatnya, Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) setempat, disangka menghilangkan hak pilih.

Orang yang di dalam video itu saat diklarifikasi merasa terpojok, karena berdasarkan bukti-bukti tertulis, yang bersangkutan hadir ke TPS dan menyalurkan hak pilih. Akhirnya ia membenarkan diminta membuat pengakuan palsu, dengan imbalan uang Rp 50 ribu.

“Itu hanya salah satu contoh ya, kalau mau diungkap semua, masih banyak lagi, “ kata Totok.

Sebelumnya, Pilkada Rembang dimenangkan pasangan Abdul Hafidz – Hanies Cholil Barro’. Duet tersebut unggul 5.501 suara, dibandingkan pasangan calon lawannya, Harno – Bayu Andriyanto.

Abdul Hafidz dan Bayu Andriyanto adalah Bupati dan Wakil Bupati Rembang yang saat ini masih menjabat. Keduanya pecah kongsi, kemudian maju bertarung di Pilkada 9 Desember, dengan pasangan berbeda. (Daryono-tie)

Lainnya

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 × 5 =

Back to top button