Berita UtamaFeatured

Harapan Pengrajin Sapu Glagah di Ujung Utara Purbalingga

PURBALINGGA, detakjateng – Cuaca nampak berkabut, angin bertiup kencang membawa hawa dingin hingga ke sudut-sudut rumah. Seorang wanita paruh baya duduk bersimpuh di antara bunga-bunga glagah yang telah mengering sempurna.

Wanita itu memotong setiap helai bunga glagah arjuna menggunakan alat kecil yang terbuat dari kayu dan cutter atau warga setempat menyebutnya dengan ani-ani. Bunga glagah yang dipotongnya dikumpulkan dalam kepalan tangannya yang mulai menua termakan usia.

Kemudian dikumpulkannya glagah untuk selanjutnya diikat untuk diproses selanjutnya. Wanita paruh baya itu tak sendiri, ada Turyati (34) pengrajin sapu glagah yang juga sedang merapikan glagah untuk kemudian diikat menggunakan kain dan dijahit.

Turyati dengan penuh ketelatenan menjahit glagah sampai selesai menjadi ujung sapu tanpa pegangan. Menjadi pengrajin glagah sudah ditekuninya sejak dirinya masih muda dengan kepiawaiannya Turyati mampu menghasilkan 50 hingga 100 sapu tanpa pegangan.

Glagah menjadi harapan tersendiri baginya dan juga pengrajin sapu glagah lain di Desa Sirau terkhusus di Dusun Karanggintung. Melimpahnya bunga glagah menjadi sumber rejeki bagi dirinya, keluarga dan masyarakat di Dusun Karanggintung, Desa Sirau.

“Alhamdulillah dari sapu glagah ini bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari,” kata Turyati pada detakjateng, Minggu (31/1/2021).

Sama halnya dengan Maryati (43) istri Kepala Desa Sirau yang juga sebagai pengrajin sapu glagah. Maryati menyampaikan dirinya bisa menyekolahkan putra putrinya hingga menyelesaikan jenjang perguruan tinggi dari sapu glagah yang diproduksinya.

Bahkan dirinya membuka kesempatan bagi warga desanya untuk bekerja mengikat ataupun menjahit sapu glagah di rumahnya. Ia menuturkan hampir seluruh warga di Dusun Karanggintung, Desa Sirau yang ada di utara Purbalingga berprofesi sebagai pengrajin sapu glagah.

“Kalau saya, siapa aja yang butuh ya silahkan bekerja. Karena memang sekarang masing-masing warga produksi sapu sendiri. Kalau lagi musim panen glagah nyari orang yang mau kerja itu susah harus gantian kalau di tempat lain selesai baru ke sini,” kata Maryati.

Ia menjelaskan ketika pandemi covid-19 melanda, omset penjualan sapu sempat menurun drastis. Namun para pengrajin tetap bertahan hingga sekarang produksi sapu glagah kembali normal.

“Kemarin sempat terkendala karena PSBB jadi gak ngirim sapu, tapi sekarang uda lancar lagi. Kita kirim sapunya ke luar kota seperti Solo, Cirebon, Bandung, Indramayu, sudah kemana-kemana,” terangnya.

Kendala yang dihadapinya bersama dengan pengrajin sapu glagah lainnya yakni cuaca yang kurang bersahabat sehingga untuk mengeringkan bunga glagah membutuhkan waktu yang cukup lama. Menurutnya, meskipun glagah dipanen setahun sekali, tetapi untuk kebutuhan pembuatan sapu masih tercukupi.

“Kalau misalnya bahan bakunya gak ada, kita nyari ke Bandingan, Jingkang, atau Karangreja karena di sana juga banyak tanaman glagah dan sampai sekarang masih tercukupi,” jelas Maryati.

Maryati biasanya mendapatkan glagah dari para petani glagah yang ia datangi dari rumah ke rumah untuk mendapatkan glagah. Ia membeli glagah per kwintal dengan harga Rp 1,2 juta per kwintalnya.

“Harganya ini meningkat dari tahun ke tahun, sempat Rp 700 ribu, Rp 800 ribu, Rp 1 juta, dan sekarang Rp 1,2 juta,” imbuhnya.

Untuk sapu tanpa pegangan yang diproduksi Maryati dihargai Rp 5000 per potongan sapunya. Biasanya ia menjual 3000 – 4000 potong sapu tergantung pemesanan. Kemudian untuk membiayai para pekerjanya dilakukan berdasarkan tahapan pembuatan sapu mulai dari memisahkan glagah dengan batangnya, mengikat glagah, merapikan dan mengikat menggunakan kain, sampai proses menjahit glagah.

“100 iket yang dihasilkan dihargai Rp 20 ribu, biasanya sehari bisa sampai 500 iket glagah biasa, nanti yang jahit sama ngikat pakai kain dihargai beda lagi. Kerjaannya pun tidak memaksa, karena kebanyakan ibu-ibu yang buat dan mereka juga harus mengurus rumah tangga, jadi setelah urusan rumah tangga selesai mereka baru buat sapunya,” pungkas Maryati. (Lilian Kiki Triwulan/TR).

Lainnya

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 + one =

Back to top button