Berita UtamaPendidikan Dan Budaya

Mengenang Sosok Soedirman, Pahlawan Nasional yang Lahir di Bumi Perwira

PURBALINGGA, detakjateng – Jenderal Soedirman merupakan sosok pahlawan bangsa yang erat hubungannya dengan Purbalingga. Panglima Besar itu dilahirkan di Desa Bantarbarang, Kecamatan Rembang pada 24 Januari 1916.

Soedirman mulai dari lahir, menjajaki masa mudanya, hingga berkiprah di berbagai organisasi dan melanjutkan ke dunia militer mengantarkannya menjadi Jenderal Besar. Soedirman tumbuh dan dibesarkan oleh keluarga angkatnya, aktif di berbagai kegiatan sejak remaja.

Soedirman menjadi jenderal di usia yang masih sangat muda dan wafat tanpa menikmati pengorbanan dan perjuangannya. Demikian kata Agus Sukoco, Budayawan Purbalingga memberikan persepsi sosio budaya terhadap Jenderal Soedirman.

Menurutnya, warga Purbalingga patut bersyukur, karena Purbalingga menjadi tempat lahir sosok pahlawan nasional. Ada berbagai hal yang bisa diteladani dari sang Jenderal diantaranya semangat, pengorbanan dan perjuangannya dalam meniti kehidupannya.

“Sang Jenderal merupakan pusaka yang dimiliki oleh bangsa ini. Beliau berjuang dengan tulus ikhlas dan meninggal saat muda tepat setelah penyerahan kedaulatan yang diperjuangkannya. Beliau dijaga dari nafsu dan ketamakan yang biasanya menyertai kekuasaan,” kata Agus pada detakjateng usai acara Gendu-Gendu Rasa 105 Tahun Jenderal Soedirman, Jumat (29/1).

Ia menceritakan Jenderal Soedirman merupakan sosok panutan dan sosok yang patriotic. Ketika berselisih pendapat dengan para pemimpin bangsa, Soedirman selalu menempatkan kepentingan negara dan bangsa di atas segalanya.

“Pada agresi militer Belanda, Soedirman memimpin gerilya dalam kondisi sakit. Berkat perjuangannya dan pengorbanannya Belanda mau mengakui kedaulatan negeri ini. Sepulang dari medan gerilya, Soedirman wafat pada 29 Januari 1950 saat usianya baru 34 tahun,” ujarnya.

Sementara itu, Gunanto Eko Saputro atau akrab disapa Igun menerangkan Soedirman lahir dari pasangan Karsid Kartawiradji seorang kuli pabrik gula dan Siyem. Setelah diberhentikan dari pekerjaannya, Karsid bersama istrinya, Siyem yang sedang mengandung tinggal di rumah Tarsem (saudari Siyem,red) di Desa Bantarbarang, Kecamatan Rembang.

Tarsem merupakan orang yang berkecukupan karena bersuamikan seorang camat bernama Raden Cokrosunaryo. Saat tinggal di sana Siyem melahirkan seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama oleh pamannya, Soedirman.

“Soedirman kemudian diadopsi oleh Cokrosunaryo dan diberi gelar Raden. Tak lama menetap di Tanah Perwira, setelah Cokrosunaryo pensiun sebagai camat akhir 1916, Karsid, Siyem dan Soedirman ikut dengan keluarga priyayi itu ke Manggisan, Cilacap,” kata Igun.

Di Kota Pelabuhan itu, Siyem melahirkan seorang putra lagi bernama Muhammad Samingan. Karsid meninggal dunia saat Soedirman berusia enam tahun. Soedirman dan adiknya lalu tumbuh dan berkembang di Cilacap dalam bimbingan keluarga yang mengadopsinya.

“Soedirman sudah dianggap seperti anak sendiri. Cokrosunaryo bahkan menyimpan rahasia bahwa ia bukanlah ayah kandungnya sampai Soedirman berusia 18 tahun,” imbuhnya.

Sejak kecil Soedirman sangat aktif di sekolah maupun organisasi salah satunya Hizboel Wathon, kepanduan Persyarikatan Muhammadiyah. Kemudian di zaman pendudukan Jepang, Soedirman aktif di Pembela Tanah Air (Peta).

“Setelah Jepang hengkang lalu Indonesia Merdeka, Soedirman lalu meneruskan karirnya di militer sampai melesat menjadi panglima tentara,” terang Igun.

Igun menyampaikan Gendu-Gendu Rasa 105 Tahun Jenderal Soedirman merupakan bentuk penghormatan kepada Jenderal Besar Soedirman sebagai pahlawan nasional yang dilahirkan di Purbalingga. Gendu-Gendu Rasa Mengenang Jenderal Soedirman disiarkan secara daring melalui akun instagram @purbalinggaku.news. (Lilian Kiki Triwulan-tie)

Lainnya

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

11 − one =

Back to top button