Berita UtamaOpini

Nenek Penjual Nasi Jagung dan Nasib Lansia Freelance

SEMARANG, detakjateng-Perempuan tua berpostur tinggi kurus itu sering menyambangi rumah saya juga rumah tetangga-tetangga saya. Bukan untuk bertamu tapi ia jualan nasi jagung, makanan pokok legendaris masyarakat kita dulu saat jaman beras masih susah.

Bapakku salah satu pelanggannya. Juga beberapa tetangga. Banyak yang merasa lebih ke kasihan daripada butuhnya.

Saya pernah bertanya berapa usianya, ia menjawab sudah 70 tahun lebih.

Tapi ia masih terlihat sehat dan kuat. Caranya berjalan dengan menggendong keranjang juga masih menyakinkan. Tidak terlihat rapuh atau lemah. Jarak puluhan kilometer masih sanggup ia tempuh untuk mendatangi pembeli dari pintu ke pintu di beberapa desa dalam sehari.

Nenek penjual nasi jagung ini tidak sendirian. Presentase penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia berdasarkan status pekerjaan utama. Pada tahun 2018 penduduk lansia di Indonesia berjumlah 24,49 juta atau sekitar 9,27 % dari total penduduk. Dari jumlah itu sekitar 49,79% atau sekitar 12,19 juta orang lansia masih bekerja.

Batasan lanjut usia di Indonesia tercantum dalam Undang-Undang No 4 tahun 1965. Undang-Undang ini berisi tentang pemberian bantuan penghidupan  orang jompo, bahwa  yang berhak mendapatkan bantuan adalah mereka yang telah berumur 56 tahun keatas.

Namun tidak semua lansia mendapatkan bantuan atau bisa saja mendapatkan bantuan akan tetapi jumlahnya hanya bersifat membantu bukan mencukupi seluruh kebutuhan.

Kementerian sosial memamg telah meluncurkan  program bantuan sosial untuk lansia. Tiap lansia mendapatkan bantuan dari pemerintah senilai Rp. 200 ribu per bulan. Penerima bantuannya adalah penduduk miskin yang terdaftar dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).

Itu bagi yang terdaftar. Bagi lansia yang tidak terdaftar dalam program tersebut namun hidupnya juga tidak begitu sejahtera-sejahtera amat atau malah miskin. Dan mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, maka tetap bekerja di usia lanjut adalah pilihan.

Apalagi tidak semua lansia pada masa mudanya adalah pegawai yang bisa leha-leha menikmati uang pensiun di hari tuanya. Tidak semua lansia pada masa mudanya bergaji cukup yang bisa diatur menjadi investasi dan tabungan di hari tua.

Ada lansia-lansia yang pada masa mudanya menjadi ‘pekerja lepas’ seperti pedagang kue, pedagang makanan keliling, menjadi tukang ojek, tukang becak, tukang pijat, tukang semir sepatu, tukang parkir, pembantu, petani, nelayan, dan lainnya.

Kelompok pekerja ini nyata di sekitar kita. Jenis-jenis pekerjaan yang menuntut tenaga kuat untuk menjalaninya.  Bahkan masih dijalani sampai mereka  lanjut usia untuk sekedar menyambung hidup dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bagi yang beruntung, beberapa orang tua ada peluang ditanggung hidupnya oleh anak-anak mereka yang punya taraf hidup lumayan sukses di masa tua mereka. Kondisi itu juga menjadi pemandangan yang jamak ditemui di sekitar kita.

Lansia Indonesia memiliki tingkat ketergantungan atau rasio depedensi yang akan meningkat drastis dari 15,7%  pada tahun 2020 diprediksi merangkak naik menjadi 33,3% pada tahun 2040.

Rasio ketergantungan ini selaras dengan meningkatnya jumlah lansia nantinya. Tahun 2050 diprediksi lansia di Indonesia mencapai angka 70 juta atau 23% dari total jumlah penduduk.

Ukuran ideal lansia hidup bahagia di hari tua diantaranya terjamin kebutuhan makan dengan gizi seimbang, perawatan bagi yang menderita sakit serta kebutuhan rekreasi.

Tapi kenyataan tidak seindah teori dan harapan kita bersama. Di pelosok-pelosok desa, di pinggiran-pinggiran kota tak sedikit kita jumpai lansia yang harus menanggung beratnya hidup di hari tua.

Mereka masih bekerja keras layaknya tenaga-tenaga muda yang tak kenal lelah seperti kisah para pekerja lepas diatas.

Solusi andalan tetap besar harapan kita kepada pemerintah untuk memberikan perhatian yang merata kepada penduduk lanjut usia di negeri ini. 

Jika itu terbatas, pilihan lainnya adalah terus menguatkan semangat tolong menolong dan kepedulian  terhadap sesama di kalangan kita.

Atau langkah terakhir mendoakan kepada anak-anak yang masih mempunyai kedua orang tua semoga dilancarkan rezekinya untuk meningkatkan wujud bakti kepada orang tua sebagai ladang amal terampuh  kita di dunia ini.

Dan mendoakan para orang tua dimanapun selalu berada dalam perlindungan dan diberi kesehatan dan rezeki yang cukup seperti halnya doa setiap orang yang berjumpa dengan nenek renta penjual nasi jagung tadi.

Sementara untuk para lansia masa depan, mengingat prediksi jumlah ledakan lansia kedepan bukan  angka yang kecil, maka  sepatutnya kita para calon lansia  masa depan dapat mensikapi hal ini. Dengan menambah  semangat juang, kreatifitas dan manajemen diri yang tepat untuk hari depan bahagia.

Penulis, Shinta Ardhan,

Wartawan lepas Tinggal di Ambarwa

Lainnya

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

7 − 2 =

Back to top button