Pojok Ngingu

Berawal Dari Iseng, Sukses Pelihara Kalkun

BANYUMAS, detakjateng –   Kusworo (51) seorang peternak Ayam Kalkun dari Desa Kracak, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.yang berawal dari coba-coba sekedar kesenangan memelihara ayam Kalkun, kini justru menjadi usaha andalan bagi pria dengan dua anak ini. Woro mengaku tetap optimis, menjalankan usaha ternak ini meskipun ditengah Pandemi Covid-19.

” Setelah dijalani, bisnis ternak ayam kalkun ternyata sangat menjanjikan, sebab di wilayah Banyumas dan sekitarnya masih belum banyak yang menekuninya. Nah dari sinilah saya mulai serius,” ujar Woro, panggilan akrab Kusworo.

Woro menuturkan , usahanya baru dirintis dalam dua tahun terakhir ini. Awalnya ia mendapatkan ayam kalkun jantan dari seorang teman. Setelah beberapa hari dipelihara, ia kemudian membeli kalkun betina seharga Rp400.000. Tidak berapa lama kemudian, kalkun tersebut menghasilkan 14 telur dan semua diternak hingga menjadi anakan kalkun.
Ayam kalkun yang dipelihara di samping rumahnya itu bisa menghasilkan telur antara 10-25, dan kemarin pertama bertelur, ada 14 dan semua dipelihara sampai menetas anakan kalkun. Untuk anakan ayam kalkun yang usianya masih satu bulan, harganya mencapai Rp80.000 dan untuk anakan yang sudah berwarna, harganya bisa di atas Rp100.000 per ekor.
” Saya cukup kaget ternyata perputaran uang di bisnis kalkun ini terbilang cukup cepat. Peminat ayam kalkun sangat banyak, ada yang membeli anakan untuk diternak, ada yang membeli kalkun usia dewasa untuk penggemar ayam kalkun, ada juga yang membeli untuk dikonsumsi. Yang pesan untuk dikonsumsi cukup banyak, karena daging kalkun yang usianya di bawah satu tahun, dagingnya empuk dan rendah kolesterol, sehingga bagi yang diet tetap bisa mengkonsumsi ayam kalkun dan aman untuk kesehatan,” tuturnya.

Sekarang harga ayam kalkun pedaging untuk usia satu tahun, berkisar Rp800.000 hingga Rp1.000.000. Untuk pembelian daging kalkun, Kusworo menyediakan beberapa bentuk pembelian, mulai dari ayam utuh, ayam yang sudah dipotong-potong, dicincang hingga kalkun yang sudah dimasak.

Kusworo mengaku meski musim pandemi Covid-19, namun jumlah pemesan ayam kalkun tidak mengalami penurunan yang berarti. Pemasaran kalkun masih dilakukan ala kadarnya, yaitu melalui media sosial serta promosi dari mulut ke mulut.

Harga untuk anakan ayam kalkun, misalnya, ia pernah mendapat pesanan hingga ratusan ekor dari penggemar kalkun di luar Jawa. Sayangnya, Kusworo tidak bisa memenuhi permintaan tersebut, karena keterbatasan stok kalkun.

Woro mengaku semua dilakukan sendiri dan sekarang stok yang tersedia ada puluhan kalkun jantan, 8 kalkun betina, dan ada sekitar 100 an anakan kalkun yang usianya sudah dua bulan dan yang baru lahir ada belasan. Untuk memenuhi permintaan lokal dari Banyumas saja masih kekurangan, sehingga permintaan dalam jumlah banyak, belum bisa dipenuhi.

Meski baru berjalan dua tahun lebih, namun bisnis ayam kalkun yang digelutinya kini sangat membantu ekonomi keluarganya. Woro yang banyak didatangi mahasiswa dan orang yang ingin belajar ternak ini berencana akan mengembangkan usaha ternak ini dengan membuat kandang yang lebih luas (Ana Nurani/PT).

Lainnya

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

thirteen − five =

Back to top button