EkonomiFeatured

Gurihnya Makaroni Giti, Makaroni Keju Pertama di Purbalingga

PURBALINGGA, detakjateng – Makaroni keju menjadi salah satu makanan ringan yang saat ini terus berkembang di Purbalingga. Beberapa di antaranya bahkan berhasil menembus toko-toko modern dengan berbagai varian rasa yang ditawarkan.

Makaroni Giti, satu dari beragam nama makaroni yang ada di Purbalingga. Makaroni Giti rupanya merupakan makaroni keju pertama di Purbalingga dengan cita rasa yang gurih, renyah dan lebih terasa kejunya.

Makaroni keju ini dikembangkan oleh sepasang suami istri Wagiatno (53) dan Eti Purnomowati (53) yang tinggal di Perumahan Wirasana Indah Blok E. Makaroni Giti sudah ada sejak tahun 2011, bermula dari hobi Eti yang senang membuat aneka kue basah dan ingin mencoba peluang membuat kue kering.

Kemudian dirinya mencoba membuat kue kering dengan alat yang sudah tersimpan lama dan tidak pernah terpakai. Ia kemudian mencampurkan berbagai bahan seperti tepung terigu, keju, dan telur sebagai bahan utamanya.

Terbentuklah adonan dan dimasukkannya ke dalam alat sampai menghasilkan bentuk seperti makaroni. Karena berbahan dasar keju maka ia bersama suami menamainya makaroni keju dan Giti diperoleh dari gabungan sepasang suami istri Wagi serta Eti.

“Dari segi bahan kami gak kesulitan, untuk bahan-bahan yang kami gunakan juga kami pilih bahan yang terbaik, karena kami menjaga mutu dan rasa makaroni keju,” kata Eti saat ditemui detakjateng di kediamannya, Rabu (3/2).

Eti menuturkan ketika pandemi produksi dan omset makaroni keju memang sempat menurun dibanding sebelum pandemi covid-19 melanda. Hari-hari sebelum pandemi, dirinya bisa menjual dan mengirim Makaroni Giti hingga di atas 20 kg ke luar kota tergantung permintaan.

“Sebelumnya ke Bandung bisa sampai 15 kg, Karawang 5 kg, Semarang, Rembang. Ini malah Januari 2021 Bandung gak kirim kosong permintaan biasanya rutin. Tapi alhamdulillah kota-kota lainnya seperti Jakarta, Jogja Solo sudah mulai stabil lagi,” ujarnya.

Kemasan Makaroni Giti sendiri masih terbilang sederhana yakni menggunakan plastik yang diberi label Makaroni Giti lengkap dengan PIRT dan label halal dengan ukuran 250 gr per bungkusnya seharga Rp 19 ribu. Dirinya juga mengembangkan Makaroni Giti dalam bentuk dus dengan ukuran 500 gr yang biasanya dipesan untuk acara hajatan.

“Sekarang mau mencoba mengganti kemasan standing pouch biar lebih kekinian tetapi tetap menampilkan isian makaroni kejunya,” terang Eti.

Ia menjelaskan Makaroni Giti belum merambah ke toko-toko yang ada di Purbalingga dikarenakan harus memenuhi pesanan dari luar kota. Eti mengaku belum percaya diri untuk masuk ke toko modern karena dari segi kemasan masih terbilang biasa.

“Saya belum berani, mungkin kalau nanti sudah ganti kemasan mau mencoba merambah ke sana,” ungkapnya.

Menurutnya melihat perkembangan makaroni keju yang mulai menggeliat di Purbalingga dirinya tidak takut tersaingi, justru ia merasa senang karena banyak yang ikut mengembangkannya. Baginya yang terpenting bagaimana mutu makaroni kejunya tetap terjaga dengan bahan-bahan yang berkualitas.

“Untuk pekerja yang nyetak ada tapi kadang suami yang nyetak sendiri, packing dibantu keponakan, kalau saya khusus goreng makaroninya karena saya gak mantap kalau gorengnya dipegang orang lain,” tutur Eti.

Eti bersama suami biasanya mulai membuat adonan mulai pukul 07.30 hingga pukul 15.00. Ia mengungkapkan makaroni keju buatannya bisa bertahan hingga kurang lebih 3 bulan dan rasanya masih tetap enak, gurih dan renyah.

“Bagi masyarakat yang ingin membeli bisa langsung ke Perum Wirasana Indah Blok E Makaroni Giti. Untuk varian makaroni kejunya kami cuma buat yang original saja karena ciri khas makaroni keju itu kan rasa kejunya,” pungkasnya. (Lilian Kiki Triwulan/an)

Lainnya

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eighteen − 16 =

Back to top button