Berita UtamaEkonomi

Meski Dianggap Menjijikkan, Pemuda Asal Kulon Progo Raup Jutaan dari Bisnis Larva Lalat

KULON PROGO, detakjateng – Bagi sebagian orang, mungkin larva atau yang kerap disebut belatung bisa saja menjadi hal yang menjijikkan atau menggelikan.

Namun di tangan orang yang mampu melihat peluang, pandangan-pandangan itu bisa saja dibalik sehingga bisa menghasilkan keuntungan.

Seperti yang dilakukan oleh seorang pemuda asal Pedukuhan I, Kalurahan Krembangan, Kapanewon Panjatan, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta bernama Nanda Eka Saputra.

Memanfaatkan bangunan semi permanen di samping tempat tinggalnya, pemuda berusia 25 tahun ini memantabkan diri menjadi seorang pengusaha dengan budidaya magot atau larva lalat Black Soldier.

Di dalam bangunan itu, berjejer kotak kayu berukuran sekitar 80 cm persegi yang berisi ratusan belatung. Tak ada yang berani mendekat apalagi menyentuh hewan kecil itu. Rasa geli dan jijik menjadi alasannya. Namun hal itu nampaknya tak dirasakan Nanda yang sudah menggeluti budidaya ini sejak Agustus 2020 lalu.

Magot atau larva lalat Black Soldier ini dikenal di pasar pencinta burung kicau, peternak ayam pedaging dan ayam petelur serta pembudidaya ikan lele sebagai salah satu pakan yang mengandung protein tinggi. Di sisi lain, hewan satu ini harganya juga lebih terjangkau ketimbang pakan jenis lainnya, sehingga menekan biaya produksi para peternak ayam, ikan maupun pencinta burung kicau.

“Awalnya saya merasakan kesusahan mencari pakan ternak. Akhirnya saya memutuskan untuk membudidayakan sendiri magot ini,” kata Nanda sembari menunjukkan magot hasil budidayanya pada Senin (1/02/2021).

Nanda mengawali budidayanya ini dengan belajar kepada sejumlah pembudidaya magot lain di wilayah Sleman, Bantul serta Kulon Progo. Setelah mengantongi pengetahuan perihal budidaya magot, ia pun memutuskan membangun penangkaran magotnya sendiri.

Dalam penangkaran tersebut, terdapat 38 kandang bertingkat dengan isian berupa kotak dari papan bekas krat atau peti kemas. Setiap kandang berisi 40 kilogram magot pada bagian bawah dan 20 kilogram magot pada bagian atas.

Selain menjual pakan dalam bentuk maggot, Nanda juga menyediakan pakan berwujud pupa. Pupa sendiri merupakan maggot dewasa yang sedang memasuki tahap kepompong untuk menjadi lalat.

Pupa harganya lebih tinggi dibanding maggot. Namun di sisi lain secara efisiensi pakan jauh lebih irit ketimbang pakan lain yang biasa mencapai ratusan ribu rupiah.

Jika satu kilogram maggot berkisar Rp 6 ribu,maka phpa bisa mencapai Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu per kilogramnya . Sementara untuk yang masih dalam tahap pre-pupa dipatok dengan harga Rp 80 ribu hingga Rp 100 ribu per kilogramnya.

“Biasanya saya jual dalam kondisi hidup, tapi ada juga yang dalam kondisi sudah mati karena disangrai. Biasanya yang disangrai ini untuk pakan ikan hias seperti koi dan louhan yang harga rata-ratanya bisa Rp10 ribu per gram,” terang Nanda.

Dalam sebulan, Nanda setidaknya mampu menjual sekitar 100 kilogram hasil budidayanya, baik dalam wujud maggot fresh maupun pupa. Pemasarannya selain ke sejumlah wilayah di Kulon Progo juga menyasae wilayah Bantul, Sleman serta sebagian wilayah Jawa Tengah.

“Keuntungan bersih setiap bulan itu rata-rata Rp 2 juta, ini cukup tinggi mengingat usaha yang saya geluti masih tergolong baru,” ujarnya.

Nanda meyakini usaha budidaya maggot ini memiliki masa depan yang cerah karena pangsa pasarnya luas. Perawatan maggot juga tergolong mudah dan murah. Ini bisa dilihat dari pakannya, yaitu kotoran ayam dan sampah-sampah organik, seperti sayuran dan buah-buahan busuk.(Jati Asmoro-tie)

Lainnya

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

one × 1 =

Back to top button