Berita UtamaOpini

Pecinta Sego Berkat

AMBARAWA, detakjateng- DARI sekian banyak menu makanan di dunia ini peringkat nomer satu sebagai makanan terenak bagi saya adalah sego berkat atau nasi berkat. Boleh dibilang saya penggemar berat nasi selametan itu. Sensasi rasanya berbeda dengan menu makan apapun.
Kegilaan saya dengan sego berkat ini bahkan sudah melekat sejak bayi atau mungkin sejak dalam kandungan ibu saya.

Masa kecil saya adalah masa peralihan masyarakat dari makan nasi jagung ke makan nasi beras. Meski masyarakat kamu saat itu sudah sanggup makan nasi namun pendukung untuk disebut makanan layak, enak dan bergizi belum lengkap. Dampaknya nasi berkat menjadi harapan besar makan enak kala itu. 

Waktu saya berumur lima tahun, jika melihat bapak-bapak memakai kopyah dan sarung datang ke rumah, wajah saya langsung cerah. Tandanya bakal ada kenduri hari itu. Ibarat detektif profesional, dari balik korden dapur saya mengintip dan mendengar seksama siapa gerangan pengundang kenduri hari itu. 

Ledakan kegembiraan memuncak saat selanjutnya melihat bapak sudah ganti sarung dan siap-siap menuju rumah tuan rumah kenduri. 
Sampai-sampai menanti bapak pulang membawa nasi berkat menjadi angan-angan tinggi. Saat itu karena bapak belum juga pulang, saya putuskan untuk menyusul  ke rumah tetangga. Hasil dari mengintip dan menguping tadi saya gunakan untuk menyergap lokasi kenduri. 

Sampai di rumah tetangga, saya berdiri di depan pintu sambil sedikit mengintip. Dan hasilnya efektif. Pintu rumah itu sedikit saya buka dan bapak-bapak yang sedang membaca tahlil, langsung menyambut dan meminta saya ikut duduk lesehan bersama dengan bapak-bapak lainnya. 

Dengan penuh semangat saya masuk, ikut duduk, tapi tidak ikut berdoa. Cuma fokus menunggu jatah makan tiba. Saya bergelimang potongan ayam hari itu. Ada  bapak-bapak yang memberi saya beberapa potong daging ayam jatah mereka ke piring saya. Semua seperti terharu dengan keberadaan saya di situ.

Nostalgia masa kecil yang demikian euforia menanti nasi berkat ini adalah situasi yang perlu dirawat. Itu sebagai respon positif terhadap hasil kebudayaan masyarakat setempat. Kita tahu,  kenduri merupakan bagian dari adat istiadat masyarakat kita sejak dulu sebagai perpaduan agama dan kebudayaan. 

Namun seiring jaman, tradisi berkatan ini lebih banyak dilakukan masyarakat pedesaan. Segala acara baru mendapat stempel afdol jika sudah diawali dengan kenduri atau berkatan. 

Dari acara kelahiran bayi, menikah, beli motor, beli mobil, dapat kerja baru, masuk rumah, pindah rumah, sampai kematian hingga peringatan kematian.

Satu hal yang paling ditunggu dari hasil kenduri adalah nasi berkat itu sendiri. Karena doa saja tidak cukup. Agar lebih mantap harus diwujudkan dalam ragam makanan. 

Filosofi  nasi berkat ini banyak makna. pertama syukuran, kedua sedekah, ketiga kerukunan selanjutnya doa dan harapan. 

Kata berkat berasal dari Bahasa Arab barakah artinya nikmat. Istilah lain menyebutkan barokah artinya ziyadatul khair artinya bertambahnya kebaikan atau langgengnya kebaikan. 

Maknanya semangat dari semua acara genduren, selamatan atau tasyakuran adalah doa untuk kebaikan yang bertambah, berlipat dan bonusnya langgeng. 
Bagi yang punya acara bernilai sedekah dan ibadah. Bagi yang menerima bernilai rezeki. 

Budaya ini harus terus lestari.Jangan sampai kemajuan jaman mengikisnya.  Beberapa langkah yang dapat ditempuh untuk melestarikan sebuah budaya di tengah masyarakat antara lain
1. Bersedia mempelajari budaya. 
2. Ikut berpartisipasi dalam kegiatan kebudayaan. 
3. Mengajarkan kepada generasi penerus supaya kebudayaan itu tidak musnah. 
4. Mempraktikan pesan kebudayaan itu dalam kegiatan sehari-hari. 
5. Menghindarkan rasa gengsi mengakui kebudayaan yang kita miliki. 
Sebagai tradisi, nilai-nilai luhur dan kearifan lokal yang dimiliki bersama secara turun temurun oleh suatu kelompok  masyarakat tertentu dalam suatu bangsa dimaknai sebagai identitas kolektif atau jatidiri suatu bangsa. 
Kebudayaan memiliki peran sentral dan mendasar sebagai landasan utama dalam tatanan kehidupan berbangsa. 

Meski tak dipungkiri masuknya pengaruh budaya asing dan perkembangan teknologi memiliki pengaruh yang besar kepada, masyarakat dan generasi muda dalam memegang kokoh nilai budaya. 

Bisa dibilang mengkawatirkan jika nilai kebudayaan hilang dan tidak teraktualisasi di kehidupan masyarakat khususnya generasi muda. 
Jika hal ini terjadi, masyarakat akan kehilangan landasan fundamental dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Kita hanya akan berhasil melestarikan kebudayaan jika kita terus menerus menjalankannya. (ning-tie)

Penulis: Shinta Ardhan
Jurnalis dan MC Humor Tinggal di Ambarawa

Lainnya

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8 + eleven =

Back to top button