Ekonomi

Menilik Lesunya Produksi Kopi Sulingan Akibat Pendemi Tak Berkesudahan

KULON PROGO, detakjateng – Pandemi Covid-19 telah setahun lebih menggempur Indonesia. Beragam sektor perekonomian melesu adalah dampak nyata dari pandemi yang berkepanjangan dan semakin berlarut-larut. Hal itu pula yang kini tengah dialami oleh para petani kopi di Kalurahan Jatimulyo, Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta yang tergabung dalam Kelompok Tani Sri Rahayu.

Wilayah Jatimulyo yang memiliki ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini memang dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil kopi di Kulon Progo. Adalah Kopi Sulingan yang diolah oleh petani setempat sejak beberapa tahun belakangan.

Kopi Sulingan sejatinya telah dikenal di kalangan penikmat kopi. Kendati tanaman kopi di wilayah setempat berstatus tanaman tumpang sari yang tumbuh di bawah ketinggian ideal untuk menghasilkan kopi yang kaya cita rasa, namun kopi asal Jatimulyo ini tetap mendapatkan hati dari para penikmatnya.

Namun sejak satu tahun belakangan, tepatnya sejak pemerintah menetapkan pandemi Covid-19, produksi Kopi Sulingan merosot. Bahkan hasil panen biji kopi basah seberat 5,5 ton pada tahun 2020 lalu hingga saat ini masih menyisakan sekitar 500 kilogram kopi siap sangrai atau greenbean.

“Padahal sebelum pandemi, setiap bulan kita bisa menjual sekitar 100 kilogram roastbean. Tapi saat awal-awal pandemi, setiap bulan hanya bisa terjual sekitar enam kilogram roastbean,” kata pelaku pengolahan pasca panen Kopi Sulingan sekaligus anggota Kelompok Tani Sri Rahayu, Kelik Suparman, Minggu (14/03/2021).

Penjualan yang hanya enam kilogram setiap bulan ini berlangsung setidaknya selama beberapa pada awal pandemi. Kemudian pada bulan Juli 2020 lalu, penjualan Kopi Sulingan perlahan mengalami peningkatan. Rata-rata 40 kilogram roastbean berhasil dijual setiap bulannya.

Namun kondisi yang demikian tidak bertahan lama, tepatnya hanya tiga bulan hingga bulan September 2020. Pasalnya pada bulan Oktober hingga Desember 2020, angka penjualan roastbean Kopi Sulingan kembali anjlok. Meskipun tidak separah pada awal pandemi.

“Pada Oktober hingga Desember 2020 kemarin, rata-rata setiap bulan penjualan hanya di angka 20 kilogram roastbean,” imbuh Kelik.

Lantaran stok kopi yang masih berlimpah, akhirnya Kelik memutuskan untuk membagikan sebagian kopi olahannya kepada para relawan di posko Covid-19 pedukuhan dan kalurahan sekitar. Sementara stok lainnya secara perlahan terus berkurang guna memenuhi pesanan dari luar daerah, meskipun jumlahnya tidak banyak.

“Yang biasa habis lebih dulu itu arabika. Panen kemarin hanya mampu panen sekitar 400 kilogram arabika dari total panen 5,5 ton. Sisanya robusta. Saat ini saya masih menyimpan sekitar 500 kilogram kopi robusta greenbean,” terang Kelik.

Meskipun produksinya masih belum bisa bangkit, Kelik memilih untuk tidak menurunkan harga jual kopinya agar lebih laku di pasaran, seperti yang dilakukan para penjual dan tengkulak kopi di daerah lainnya. Alasannya sederhana, ia tak ingin makin rugi akibat nekat menjual murah kopi yang ia olah dengan biaya yang tidak sedikit.

“Untuk panen tahun ini masih pikir-pikir mau ambil buah kopi lagi atau tidak. Kalau memang mau ambil kemungkinan ya arabika,” katanya.
Beruntung sejak tahun ini ongkos produksi yang harus dikeluarkan Kelik untuk mengolah kopi bisa terpangkas, setidaknya hingga 50 persen. Bantuan berupa rumah penjemuran kopi dan gudang dengan nilai mencapai Rp 300 juta diberikan oleh Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kulon Progo beberapa waktu lalu.

“Karena saya satu-satunya pelaku pengolah kopi pasca panen di sini [Jatimulyo], saya dapat bantuan ini. Bantuan ini membuat pengolahan pasca panen lebih efisien karena sebelumnya saya mengandalkan cuaca. Kalau mendung proses pengeringan kopi akan lebih lama,” terang Kelik.

Dengan rumah penjemuran, lanjut Kelik, dirinya tidak perlu was-was kopinya terkena air hujan atau suhu yang lembab lantaran adanya perangkat pengatur suhu. Gudang berukuran 5 meter x 7 meter bantuan pemerintah juga dinilai lebih bisa menjaga kondisi kopi setelah disangrai.

Saat ini, untuk menjual Kopi Sulingan, kelik hanya mengandalkan kunjungan dari kegiatan pencinta alam seperti pemantauan kondisi burung atau bird watching serta kegiatan yang melibatkan fotografer flora dan fauna.

Seperti diketahui, Kalurahan Jatimulyo merupakan wilayah yang ekosistemnya masih sangat dijaga, didukung dengan Peraturan Desa (Perdes) Lingkungan Hidup yang diberlakukan sejak beberapa tahun lalu.
“Beberapa kedai kopi di Kulon Progo dan beberapa wilayah juga masih ambil kopi dari sini. Pelan-pelan pasti laku,” tandas Kelik.

Kelik dan sejumlah petani kopi di Jatimulyo berharap, pandemi bisa segera berlalu. Sehingga produksi dan penjualan Kopi Sulingan bisa membaik. 
Salah satu penikmat Kopi Sulingan, Efrita Nur Laila mengaku cita rasa Kopi Sulingan bisa diterima oleh lidahnya. Terlebih dirinya tidak terlalu suka dengan kopi dengan karakter rasa yang begitu pekat.

Wanita berusia 25 tahun asal Yogyakarta itu mengaku telah beberapa kali menyambangi Jatimulyo, sekadar untuk menebus rindu menyesap seduhan Kopi Sulingan. Setali tiga uang, selain menikmati kopi kesukaannya, ia juga berwisata di sejumlah obyek wisata yang ada di Jatimulyo.

“Kopinya enak, tidak terlalu pekat. Suasananya juga mendukung untuk menikmati kopi di sini. Apalagi di sini ekosistemnya masih sangat terjaga, termasuk di destinasi wisatanya,” kata Efrita. (Jati Asmoro/Pt)

Lainnya

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

twelve − 1 =

Back to top button