Lingkungan Dan Pertanian

Puluhan Ribu Hektar Padi di Banyumas Terancam Puso

BANYUMAS, detakjateng – Pasca banjir beberapa waktu lalu mengakibatkan, puiuhan hektar tanaman padi di Banyumas Jawa Tengah kini terancam puso, menyusul areal sawah yang terendam banjir. Beberapa lokasi terparah di Kecamatan Tambak, Sumpiuh, Rawalo dan Ajibarang, Kabupaten Banyumas Jawa Tengah.

Selain lahan sawah yang terendam air dan lumpur, banjir di sejumlah wilayah menggunakan waduk irigasi jebol, sehingga sawah mereka kini tak bisa teraliri.


” Di wilayah Sumpiuh saja ada 20 hektar sawah yang terendam air dan lumpur. Akibatnya tahun ini kami gak bisa tanam padi,” ujar Risdam (43), petani asal Sumpiuh.

Jika di Sumpiuh, Tambak padi rusak akibat terendam banjir. Namun beberapa wilayah di Kecamatan Rawalo dan Ajibarang, pasca banjir, sawah mereka justru tak bisa mendapat pasokan air, karena waduk irigasi jebol. 

” Kalau waduk tak diperbaiki, otomatis  di sepanjang irigasi ini sawah tak mendapatkan pasokan air. Padahal padi sedang berbuah. Jelas kami gagal panen,” ujar Saeun (48), petani asal Ajibarang, Banyumas.

Kepala Dinas Pertanian (Dipertan) Kabupaten Banyumas, Joko Budi Santosa menuturkan,  Wilayah Sumpiuh dan Tambak sudah langganan banjir. Tahun ini sekitar 30 hektar sawah di wilayah itu tak bisa ditanami padi. 

” Jumlah ini masih tergolong lebih sedikit ketimbang tahun lalu. Hanya saja kerusakan lebih parah, karena areal sawah ini tertutup lumpur sehingga terjadi pendangkalan” ujar Joko, Senin (01/04).

Selain sawah, lahan pertanian seperti palawija juga banyak yang terendam. Seperti di daerah Rawalo, Kebasen dan Kemranjen.

Menurut Joko, secara geografis areal persawahan di Sumpiuh dan Tambak memang dikelilingi sejumlah sungai, sehingga saat banjir dan irigasi tak bisa menampung banjir, air kemudian meluap ke areal persawahan.

Ditempat terpisah, anggota DPRD Jawa Tengah derah pemilihan Banyumas dan Cilacap, Sisi, SS, M Si mengatakan, pihaknya sedang mendorong eksekutif untuk segera memperbaiki infrastruktur di wilayah pertanian (Ana Nurani/pt).


Lainnya

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

20 + six =

Back to top button