Berita UtamaPojok Ngingu

Tanggapi Polemik Program Ngingu Bareng, Ini Penjelasan KOIN

PURWOREJO, detakjateng – Program Ngingu Bareng di Purworejo yang dijalankan Koperasi UMKM Indonesia (KOIN), belakangan ini menimbulkan polemik di Masyarakat. Untuk menjelaskan itu, Pembina KOIN pun angkat bicara.

Hingga kini banyak mitra KOIN yang mempertanyakan kapan realisasi dari Program Ngingu Bareng ini. Pasalnya, sejak diluncurkan 2019, sampai saat ini masih banyak kandang yang belum dibangun apalagi terisi.

Menanggapi hal itu, Pembina KOIN, Dr Reban Mirmorejo menjelaskan, dalam Program Ngingu Bareng ini, memerlukan adanya insfratruktur, dimana ada kandang, pakan, juga bibit.

“Ada perusahaan yang ikut penyertaan modal (mendukung), khususnya kandang. Pada kandang ini, diambil alih oleh PT Mega Gemilang Jaya (MGJ). Untuk pakan dan bibit, ada perusahaan tersendiri yang akan menanganinya,” jelas Reban, saat berdialog dengan para awak media di sebuah rumah makan, Kamis (11/03/2021).

Adanya polemik tentang pengadaan kandang yang sempat ramai, Reban mengatakan, mitra tidak perlu tahu hiruk pikuk atau urusan yang terjadi antara penyedia kandang dengan MGJ. “Yang penting kandang ada, bibit ada, pakan juga ada. Pasca panen terserap. Sesederhana itu,” imbuhnya.

Polemik yang saat ini terjadi, menurut Reban, karena adanya miss komunikasi dan miitra menganggap KOIN tidak bekerja dan berasumsi macam-macam. Padahal KOIN sendiri menyeting semuanya untuk bekerja.

Reban menambahkan, pihaknya menyadari, tak ada komunikasi. Dulu sebelum pandemi, dari KOIN rajin sosialisasi, tapi setelah pandemi sosialisasi tidak dilakukan lagi. Sumbatan informasi itulah yang menjadi keresahan di masyarakat. Ada koordinator-koordinator yang menurutnya belum digerakkan secara masif karena pandemi.

“Hambatan terjadinya semacam distrust (ketidakpercayaan), terjadi pada sumbatan informasi, yang mitra anggap sudah selesai, padahal manajemen KOIN kerja terus,” jelasnya.

Terkait rumor adanya sertifikat-sertifikat milik mitra yang ditahan, menurut Reban, bukanlah masalah. Itu hanya pengikat, bahwa tanah yang akan dibangun kandang itu, suratnya dititipkan di KOIN karena kontrak harus aman.

“Karena bangunnya di lahan mitra, kalau tak ada penjaminnya gimana. Misal, kandang sudah dibangun, trus dijual, maka tidak ada pegangan bagi KOIN,” tambah Reban.

Menurut Reban, jaminan sertifikat tersebut tidak akan menimbulkan masalah karena sertifikat itu tidak diapa-apa kan, dan hanya disimpan. Dalam hal ini, tidak harus sertifikat, yang penting surat atas obyek tanah tersebut, dan nantinya akan dikembalikan setelah selesai kontrak 5 tahun.

Ketika kandang itu lunas, dan menjadi milik mitra, esungguhnya kandang itu dicicil oleh mitra selama 5 tahun. Nyicil disini, bukan berarti setelah kandang jadi langsung nyicili, tapi memakai hasil panen.

“Artinya, bahwa kandang itu pasti diisi. Kalau kandang nggak diisi, KOIN rugi. Kalau itu dicermati dengan baik, saya yakin tak ada gejolak yang berarti,” lanjutnya.

Kerjasama ini, menurut Reban bersifat sukarela, karena ini juga bukan bantuan, dan ini bisnis murni. Kalau dirasa tidak menguntungkan, ya silahkan mundur. Kalau yang sudah MoU, dan sudah dibikinkan kandangnya terus mundur, nantinya ada hitung-hitungan dengan perusahaan pemasoknya

“Kalau kandang-kandang yang sudah jadi belum sempurna, ya akan kami sempurnakan, dan kedepannya akan kita isi secepatnya walaupun secara bertahap,” pungkasnya. (TORO/TR).

Lainnya

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

two × 1 =

Back to top button