Berita UtamaWisata Dan Kuliner

Tradisi Gethekan, Kearifan Lokal Ungkapan Syukur Warga Desa Wisata Gumelem

BANJARNEGARA, detakjateng – Ratusan warga Desa Gumelem Wetan dan Gumelem Kulon, Kecamatan Susukan, Banjarnegara, Kamis (11/3/2021) menggelar tradisi Gethekan di kompleks Makam Puroloyo Ki Ageng Gumelem. Tradisi Gethekan saat ini dimaknai sebagai bersih kubur dan sekaligus ungkapan rasa syukur atas hasil panen pertanian.

Warga yang datang ke pendopo kompleks makam itu membawa satu tenggok nasi tumpeng yang dilengkapi dengan sayur dan lauk. Sesuai tradisi, setiap satu pintu rumah, bisa berisi satu kepala keluarga atau lebih, membawa satu tumpeng. Sebelum mengikuti makan tumpeng bersama, warga juga melakukan bersih kubur di makam kerabat atau leluhurnya.

Kepala Desa Gumelem Kulon, Arief Machbub mengungkapkan, tradisi Gethekan diikuti dua warga Desa yakni Desa Gumelem Wetan dan Gumelem Kulon. “Tradisi Gethekan di makam Kademangan Gumelem dilakukan setiap tahun. Ini merupakan kearifan lokal yang dilestarikan masyarakat secara terus menerus yang memiliki leluhur di Gumelem,” kata Arief.

Arief menjelaskan, makna Gethekan sebelumnya dilakukan dengan membuat gethek makam atau membuat pagar di setiap makam. Gethekan dilakukan setelah panen raya. “Namun seiringnya berjalannya waktu, sekarang makam tidak lagi dipagar bambu, tapi hanya dibersihkan. Namun istilah Gethekan masih melekat sebagai tradisi lokal masyarakat,” ujarnya.

Setelah warga membersihkan kubur, kemudian berkumpul bersama di paseban untuk berdoa bersama, dan menikmati makan tumpeng bersama.

Salah satu warga Gumelem Wetan, Tuti (51) menuturkan dirinya membawa tumpeng dengan beraneka lauk seperti sayur kacang, peyek,, kerupuk, oseng bihun, abon dan oseng tempe. Tujuannya, untuk mendoakan leluhur yang sudah meninggal dunia, yang sebelumnya didahului bersih kubur

“Nasi tumpeng kami makan bersama, siapa saja boleh menikmati termasuk para tamu yang datang. Makanan yang tidak habis, kemudian sebagian dibawa pulang sebagai berkah,” katanya.

Seorang wisatawan dari Purbalingga, Nani Puji Wahyuningsih (43) mengungkapkan rasa senang bisa menyaksikan langsung tradisi Gethekan. “Saya melihat tradisi ini sangat unik dan penuh kearifan lokal. Warga kompak, saling bertukar tumpeng dan kemudian dinikmati bersama-sama. Mereka juga mengucap syukur atas hasil panen padi yang melimpah serta tetap mengingat para leluhurnya,” ujar Nani yang ikut menikmati nasi tumpeng itu. (Pray/AN)

Lainnya

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

two + 2 =

Back to top button