Kesehatan

Warga Desa Sepat Sragen Kampanyekan Prokes Lewat Tas dan Keset Anyaman

SRAGEN, detakjateng – Berbagai cara dilakukan untuk mengkampanyekan pentingnya menerapkan protokol kesehatan covid-19 dimasa pandemi seperti ini.

Termasuk upaya yang dilakukan Pemerintah Desa (Pemdes) Sepat, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen yang terus mengedukasi masyarakat tentang protokol kesehatan covid-19 melalui hasil kerajinan tangan bernilai jual.

Berbagai produk kerajinan tangan asal Desa Sepat Kecamatan Masaran tersebut diantaranya, tas anyaman plastik dari Dukuh Pucuk dan keset anyaman kain dari Dukuh Wonorejo. Tak tanggung-tanggung, kedua produk itupun berhasil menembus pasaran pelosok negeri maupun luar negeri.

Kepada detakjateng Kepala Desa Sepat, Mulyono mengaku Pemdes Sepat sengaja mengajak pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) untuk mengkampanyekan protokol kesehatan. Hal itu dilakukan guna membangun kesadaran warga terkait pentingnya menjalankan protokol kesehatan demi mencegah penularan covid-19.

“Ada dua UMKM dari Desa Sepat Kecamatan Masaran yang berpartisipasi untuk sosialisasi pencegahan covid-19 melalui tulisan point protokol kesehatan yang ada pada tas anyaman atau keset,” terang Mulyono, Selasa (9/3/2021).

Dari potensi itu, Pemdes Sepat mengajak pengrajin untuk turut mengkampanyekan protokol kesehatan covid-19 dengan 5 M. Program 5M tersebut meliputi, Mencuci tangan dengan sabun, Menjaga jarak, Memakai masker, Menghindari kerumunan dan Mengurangi mobilitas keluar rumah.

“Kelima pesan ini kemudian diaplikasikan di produk tas anyam dan keset produksi. Tujuannya agar ada sinergi antara masyarakat dengan pemerintah desa dalam pencegahan penularan covid-19,” lanjutnya.

Proses pembuatannya pun mereka tak mengabaikan protokol kesehatan saat pandemi covid-19 mulai dari memakai masker, cuci tangan dan menjaga jarak aman.

Sementara, Salah Satu Pengrajin Tas Anyaman, Yenni Eka Yulianti mengaku dengan ide kreatif memberikan pesan protokol kesehatan pada tas anyaman buatannya, membuat permintaan pesanan tas meningkat hingga 80 persen.

“Alhamdulillah, antusias masyarakat cukup tinggi. Jadikan pas pakai tas ini, masyarakat bisa baca tulisan ini dan langsung bisa diterapkan,” ungkap Yenni kepada detakjateng.

Untuk model tasnya, Yenni mengatakan dirinya selalu up to date mengikuti perkembangan.

Tidak heran jika setiap bulan dirinya bersama 30 orang pengrajin lainnya mampu menjual tas anyaman itu hingga ke sejumlah wilayah di tanah air bahkan ke luar negeri.

“Setiap bulan selama pandemi ini, kami memproduksi hingga 500 an tas anyaman (bertuliskan pesan prokes). Kami kirim ke wilayah Indonesia paling jauh Kupang, Aceh, hingga ekspor ke luar negeri seperti Korea Selatan, Jepang dan Malaysia,” kata Yenni.

Range harga tas anyaman plastik (bertuliskan pesan protokol kesehatan), mulai dari Rp. 50.000 per tas hingga Rp. 150.000,- per tas. Sedangkan untuk harga keset anyaman, mulai dari Rp. 5.000,- per keset. (Miyos Niti Swara/Pt)

Lainnya

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

19 − ten =

Back to top button