Kesehatan

Pembelajaran Jarak Jauh Picu Bertambahnya Angka Putus Sekolah

WONOSOBO, detakjateng – Pandemi COVID-19 telah mengubah banyak hal di kehidupan manusia, salah satunya di bidang pendidikan. Sebab, proses belajar mengajar dilakukan secara jarak jauh atau virtual.

Pembelajaran jarak jauh (PJJ) di sekolah saat pandemi Covid-19 ini berpotensi menaikkan angka putus sekolah. Pembelajaran tatap muka yang tidak kunjung digelar membuat banyak siswa memilih untuk bekerja.

Peningkatan angka putus sekolah selama pandemi diakui Kepala Bidang Pengembangan Kurikulum dan Pengendalian Mutu Dikpora Wonosobo, Slamet Faizi saat ditemui belum lama ini.

Menurutnya, dari hasil pertemuan dengan sejumlah guru BK di Kabupaten Wonosobo, banyak siswa dari jenjang SD maupun SMP memilih untuk keluar dari sekolah dengan alasan bekerja.

“Guru BK ini kan guru yang tahu dinamika murid secara psikologi seperti apa. Dari sejumlah laporan yang masuk, banyak anak yang putus sekolah. Meskipun dalam satu sekolah hanya terdapat satu atau dua anak yang keluar. Ada yang kelas 8, kelas 9, bahkan yang masih SD,” katanya.

Dia mengatakan, angka putus sekolah merupakan fakta yang terjadi selama pandemi Covid-19. Dari laporan yang ada, terdapat siswa yang datanya masih ada di sekolah tapi anak tersebut sudah berada di kota lain. Ada juga anak SD di daerah Kecamatan Kejajar bekerja jadi tukang ojek kentang.

“Ini terjadi karena terlalu lama di rumah, sehingga banyak anak yang memilih untuk bekerja,” ujarnya.

Tak hanya angka putus sekolah yang meningkat, perubahan perilaku juga telah terbentuk selama PJJ. Tidak ada figur yang secara khusus mendampingi siswa menurutnya menjadi pemicu perubahan perilaku tersebut. Hal seperti itu perlu disikapi dengan bijak. Meski permaslahan kesehatan adalah sebuah hal yang penting, namun masalah pendidikan juga harus diperhatikan dengan baik.

“Dampak PJJ terhadap perilaku anak sudah di depan mata, perilaku anak berbeda dari sebelum PJJ. Sekarang banyak anak yang merokok. Dari laporan guru agama bahkan banyak siswa perempuan yang sekarang rambutnya di cat warna,” katanya.

Hal senada diungkapkan Kepala SMP Negeri 1 Wonosobo Sri Puji Astuti. Menurutnya, terkait ilmu pengetahuan siswa bisa menyerap dengan baik. Namun dalam hal sikap, perilaku serta kebiasaan tidak bisa terbentuk secara maksimal. terbukti anak-anak setelah satu tahun PJJ dalam bertutur kata, kepribadian dan tindakan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.

“Kami berharap pembelajaran tatap muka bisa digelar pada awal tahun pembelajaran tahun ini. Terus terang ketika PJJ kita hanya transfer ilmu pengetahuan saja. Selain itu kebiasan mereka juga berubah. Tidur larut malam dan bangun siang hari. Jika itu terus berlanjut kami khawatir akan mempengaruhi proses pembelajaran berikutnya,” pungkasnya. (Aris/AN)

Lainnya

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

15 − eight =

Back to top button