Kesehatan

Guru Honorer Ini Tak Patah Semangat Mengajar pada Masa Pademi

PURWOREJO, detakjateng.co.id-Pagi masih belum begitu tampak sinar matahari yang menyebar waktu menunjukkan sekitar pukul 06.30 WIB, Kelik Putra Mandiri memacu motor kesayangan miliknya untuk berangkat mengajar. Ia dengan semangat melewati hamparan persawahan yang indah nan eksotik untuk mengajar di SD Negeri Maduretno, tepatnya di Desa Nampurejo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. 

Memang jarak yang ia tempuh tak begitu jauh hanya sekitar 4 kilometer, namun dengan semangat tinggi dirinya tampak tetap semangat demi mencerdaskan generasi penerus bangsa, sehingga pada saat Pademi yang belum berakhir ini dirinya justru kelihatan semakin semangat dan tak memiliki rasa putus asa.

Kelik Putra Mandiri yang akrab di panggil Kelik menceritakan, memang pada masa pandemi yang tiada henti menyebabkan pembelajaran di dunia pendidikan sangatlah terbatas, penyebaran virus corona yang belum usai di Indonesia khususnya kabupaten Purworejo mengharuskan kegiatan belajar mengajar lebih banyak dilakukan secara daring (dalam jaringan) atau online. 

Namun, diakui Kelik yang tinggal di Desa Sidoharjo, RT.03/RW.01, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, ternyata hanya daring saja tidak cukup maksimal, sehingga terdapat kebijakan dari dinas pendidikan setempat memperbolehkan melakukan kegiatan pembelajaran dengan metode konsultasi terpogram atau tatap muka.

“Tetapi dengan begitu penerapan protokol kesehatan pun selalu menjadi perhatian. Semuanya demi untuk menjaga meluasnya virus corona kepada masyarakat,” katanya, Senin (14/06/2021).

Dijelaskan Kelik yang telah mengabdi sebagai guru honorer selama 4 tahun ini, bahwa sebelum kegiatan belajar dimulai, protokol kesehatan (prokes) semuanya sudah dipersiapkan dengan sangat matang guna meminimalisir risiko penularan covid-19, serta sudah dipersiapkan dengan baik. Seperti jarak dan kapasitas minimal sudah diatur, cuci tangan juga dilakukan, masker atau faceshield pemberian dari sekolah sudah dikenakan. Dengan begitu, kegiatan belajar dengan durasi 60 menit siap dilaksanakan.

“Karena tatap muka ini di batasi hanya ada waktu 1 jam di sekolah untuk anak-anak bertanya, seperti pelajaran yang belum dipahami ketika dipelajari di rumah bersama orang tua,” ungkap Pria kelahiran 12 November 1991 yang genap berumur 30 tahun ini.

Diakui Kelik, mengajar di masa pandemi ini sangatlah terbatas, karena tidak ada waktu banyak untuk guru dan anak-anak berinteraksi di kelas untuk mengupas materi pelajaran tersebut.

“Saya selaku guru SD yang mengajar kelas 2 tidak akan bisa dengan maksimal menuntaskan materi,” ujarnya.

Akan tetapi, karena dengan waktu yang terbatas itu, justru menjadi tantangan tersendiri bagi Kelik. Pasalnya, disisi lain dirinya tidak mempunyai banyak waktu untuk memandu dan memantau perkembangan kemampuan belajar anak. Terutama pada anak-anak yang masih belum lancar membaca, dirinya sangat kesulitan dalam membagi waktu karena anak didik tidak memiliki banyak waktu untuk dibimbing di sekolahan.

“Ya, dengan begitu saya tetap berjuang semaksimal mungkin demi anak didik untuk tetap bisa menerapkan ilmu-ilmu pada mereka, agar mereka tetap bisa menerima pelajaran seperti sebelum ada pademi dengan berbagai upaya. Apalagi ini baru saja berlangsung tes kenaikan kelas, agak kesulitan bagi guru-guru kelas bawah yang anak-anaknya rata-rata masih umur 6 hingga 7 tahun,” ucapnya.

Namun demikian, rasa tanggung jawab yang tinggi untuk tetap mengajar dan keinginan untuk menjaga semangat para siswanya yang ingin tetap menuntut ilmu pada saat pandemi yang belum terdapat tanda-tanda kapan akan berakhir ini, membuat kekuatan di dalam dirinya terus terjaga serta semangat.

Dirinya mengaku, tetap bersyukur karena selama melakukan kegiatan dengan niat yang tulus pasti akan diberi kelancaran, terlebih dirinya mengaku, pada saat berjumpa pada anak didiknya rasa lelah justru menjadi penyemangat tersendiri.

“Saya selalu bersemangat dalam menjalani rutinitas sebagai guru yang memiliki tanggung jawab moral terhadap anak-anak dan masyarakat,” ujarnya.

Dirinya juga berharap, agar pandemi lekas usai sehingga pembelajaran dapat kembali berjalan dengan sebagaimana mestinya, seperti sebelum-sebelumnya. Dan Kelik berharap semua guru-guru tetap bisa beradaptasi dan inovatif dalam mengajar dimasa pandemi ini, seperti jargon “2021 Jangan Sampai Lepas” yang selalu Kelik kampanyekan atau serukan agar dirinya dan sekitarnya termotivasi. (May)

Lainnya

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

three × 3 =

Back to top button