Kesehatan

Pedagang Cilok Alih Profesi Jadi Badut Lampu Merah Akibat Pandemi

PURWOREJO, detakjateng.co.id-Karena dagangan Ciloknya sepi akibat adanya wabah Pandemi Covid-19, Dudung (40), yang merupakan seorang pendatang dari Jawa Barat memutuskan untuk menjadi Badut di lampu merah di Perempatan tepat di Kelurahan Pangenrejo, Kecamatan Purworejo/Purworejo, Jawa Tengah.

Dudung saat ditemui pada, Senin (14/05/2021) mengaku baru menjalani profesi sebagai badut di lampu merah selama satu bulanan ini, sebelumnya dirinya berjualan cilok keliling disekitaran Kota Purworejo.

Awalnya, dirinya datang ke Purworejo bersama rombongan untuk berjualan cilok dengan sistem bagi hasil dengan pemilik usaha cilok yang ada di Purworejo. Dirinya juga disediakan tempat tinggal oleh pemilik usaha tersebut. Akan tetapi karena adanya pandemi, dirinya akhirnya memilih untuk tidak lagi berjualan cilok dan beralih menjadi badut di lampu merah tersebut. Dirinya pun juga akhirnya tidak lagi tinggal di tempat pemilik usaha itu dan memilih mengontrak rumah.

Alasan dirinya akhirnya berhenti berjualan cilok, diakuinya setelah adanya pandemi, hasil dari berjualan cilok tidak lagi bisa mencukupi kebutuhannya. Ditambah pada bulan Puasa lalu, hasil dari berjualan cilok pun menurun drastis. Saat berjualan cilok pada bulan puasa kemarin, sehari dirinya hanya bisa mengumpulkan uang Rp 60 ribu.

“Itu pun belum sama setoran, hitungannya kan per biji dijual 500 rupiah, saya 150 rupiah yang disetor 350 rupiah, jadi ya dapatnya cuma sedikit. Karena kan pada masa pademi ini anak sekolah pun tidak masuk dan terbatas, tentunya untuk memutus mata rantai virus covid-19. Semoga pademi ini segera berakhir dan saya bisa berdagang cilok seperti sedia kala dan tidak menjadi badut lagi,” ujarnya.

Diungkapkan Dudung, sedangkan dari menjadi badut di lampu merah itu, dalam sehari dirinya bisa mendapatkan uang paling sedikit Rp 80 ribu dan paling banyak bisa sampai Rp 200 ribu. Namun, penghasilan tersebut masih kotor, dirinya masih harus setor kepada pemilik kostum badut sebesar Rp 35 ribu perhari, karena kostum yang dikenakannya adalah barang sewaan.

“Biasanya saya setor 2 hari sekali kepada pemilik kostum. Tapi itu masih lumayan dibandingkan berjualan cilok pada saat ini,” tutur warga Kabupaten Ciamis itu (May/AN)

Lainnya

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

14 + nine =

Back to top button