Kesehatan

Rumah Kosong Layak Huni, Dijadikan Tempat Isolasi Terpusat di Bajangrejo, Purworejo

PURWOREJO, detakjateng.co.id-Rumah kosong biasanya dianggap teksenan horor, angker, bahkan menyeramkan sehingga banyak orang yang tak berani untuk mendekatinya, terlebih pada waktu malam hari. Namun, berbeda cerita rumah kosong layak huni di Desa Bajangrejo, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, justru dimanfaatkan oleh pemerintah desa (pemdes) setempat sebagai tempat isolasi terpusat bagi warganya yang sedang terpapar positif virus Covid-19.

“Kami memanfaatkan rumah kosong sebagai tempat isolasi terpusat bagi warga kami yang terpapar virus covid-19, rumah itu kami namai isolasi mandiri,” kata Kepala Desa Bajangrejo, Sunardi saat ditemui dikantornya, Selasa (06/07/2021).

Desa Bajangrejo yang berada di sebelah selatan kota Purworejo itu, memiliki 5 dusun. Namun, kebetulan desa tersebut setiap dusun terdapat rumah kosong milik warga yang masih layak huni, sehingga bisa dimanfaatkan pemdes untuk dijadikan tempat isolasi terpusat.

“Ini kebetulan di setiap dusun ada rumah kosong, lalu kami minta ijin kepada pemilik rumah kosong untuk dijadikan tempat isolasi terpusat di dusun, untuk kapasitas tiap tempat isolasi rata-rata bisa diisi 4 orang,” ungkap Kades.

Namun, dijelaskan Sunardi, dari lima dusun yang ada itu, hanya terdapat dua dusun yang warganya terpapar covid-19, yakni Dusun Semayaan dan Dusun Kepeksari. 

“Ini untuk jumlah warga kami di dukuh Semayaan terdapat enam orang yang terpapar covid-19. Yang satu tinggal sendiri sehingga isolasi dirumahnya sendiri, kemudian ada dua ibu dan anak juga dirumahnya sendiri. Tiga sisanya ditempat isolasi terpusat, karena mereka tinggal dengan suami dan punya anak yang tidak terpapar covid-19,” ungkapnya.

Lanjutnya, untuk Dusun Kepeksari terdapat lima orang yang terpapar Covid-19. Empat orang satu keluarga sehingga menempati rumah sendiri. 

“Yang satu orang di tempat isolasi terpusat,” imbuhnya.

Sunardi saat mengajak meninjau lokasi rumah kosong tempat untuk isolasi terpusat, akan tetapi dengan jarak yang jauh, mengaku pengadaan tempat isolasi terpusat disetiap dusun itu merupakan inisiatif dari pihak desa sendiri. Pihak desa menginginkan warga yang terpapar Covid-19 harus ditarik dari keluarga, agar tidak menularkan kepada keluarganya yang lain. 

“Hal itu sebagai upaya menekan penularan covid-19,” ucap Sunardi yang didampingi sekretaris desa (sekdes) Sigit Haliyanto.

Sunardi yang juga didampingi para perangkat desa, menceritakan awal dibuatnya tempat isolasi terpusat di tingkat dusun, karena banyak warga yang menolak untuk ditempatkan di tempat isolasi terpusat di tingkat desa.

“Kami sebenarnya sudah punya tempat isolasi terpusat di tingkat desa, tapi banyak warga yang tidak mau dengan alasan jauh dari keluarga. Oleh karena itu, kami pihak desa memiliki inisiatif untuk membuat isolasi terpusat di tingkat dusun,” paparnya.

Diungkapkan pula, bahwa pihak desa, memulai inisiatif isolasi terpusat di tingkat dusun sejak terjadi lonjakan kasus Covid-19 tepatnya tanggal 23 Juni 2021 lalu. Sedangkan untuk isolasi terpusat ditingkat desa sudah dibuat sejak awal adanya pandemi yaitu pada tahun 2020 lalu.

“Sejak awal kami memang sudah konsisten terhadap penanganan pandemi ini, sejak awal pandemi, dari pembentukan Satgas Covid-19, jogo tonggo kemudian juga ada PPKM, kami selalu mengikuti perkembangannya hingga sekarang anjuran-anjuran dari pusat. Pihak desa juga sering menyemprotan terhadap tempat isolasi terpusat saat sebelum dan sesudah ditempati pasien terpapar covid-19,” ujarnya.

Sunardi menambahkan, dalam memenuhi kebutuhan konsumsi bagi pasien yang berada ditempat isolasi terpusat, pihak desa memaksimalkan program jogo tonggo.

“Sehingga untuk konsumsi ditanggung secara gotong royong oleh warga yang lain. Lingkungan disini juga banyak yang antusias membantu. Di tiap dusun juga ada Kadus dan Ketua RT yang selalu siap menangani jika ada permasalahan, untuk obat dan vitamin juga ada dari pihak puskesmas melalui bidan desa,” katanya.

Selain bantuan konsumsi dari jogo tonggo, lanjutnya, pihak desa juga telah menyediakan sembako bagi setiap KK yang terpapar covid-19. 

“Untuk sembako tersebut bersumber dari APBDes,” ucapnya.

Sunardi kades yang memiliki watak ramah itu menjelaskan, di Desa Bajangrejo menerapkan sebuah teknis penanganan saat ada warga yang terpapar. Jika desa menerima informasi dari puskesmas melalui bidan desa mengenai adanya warga yang positif, pihak desa akan langsung bergerak melakukan sosialisasi kepada keluarga dan warga lain.

“Jadi kami akan langsung sosialisasi melalui kadus dan ketua RT, yang pertama kepada keluarga, kemudian juga ke warga yang lain jika ada salah satu warga yang positif,” bebernya.

Selain itu, dalam sosialisasi warga juga diajak untuk gotong royong membantu warga yang positif terpapar Covid-19. 

“Bantuan itu dalam bentuk sembako yang nantinya untuk memenuhi kebutuhan pasien isolasi,” imbuhnya.

Lebih lanjut, kata Sunardi, pihak desa juga akan menunjuk satu orang penanggungjawab disetiap tempat isolasi mandiri. Penanggungjawab tersebut sebagai fungsi penghubung antara pasien dengan pihak desa. Sehingga dari segi kebutuhan dan perkembangan kesehatan pasien isoman dapat terpantau oleh desa.”Selain itu para pasien bisa menghubungi kadus, ketua RT atau bidan desa jika ada kebutuhan atau keluhan yang dirasakan. Dan tentunya kami selalu mengajak warga untuk selalu menerapkan protokol kesehatan 5M, untuk memutus mata rantai virus corona, apalagi Purworejo saat ini masuk zona merah di Jawa Tengah,” pungkas Kades yang masih kelihatan berumur muda itu. (May/Pt)

Lainnya

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

twenty − fifteen =

Back to top button