Pemerintahan

Pekerja Seni Di Rembang Bantah Ditolak Masuk Kantor Bupati

REMBANG, detakjateng – Sejumlah pekerja seni di Rembang membantah berita di sebuah media online yang mengesankan mereka ditolak masuk kantor Bupati saat menggelar aksi.

Terkait hal itu mereka keberatan dan menegaskan bahwa berita itu tidak benar, tidak ada penolakan melainkan dipersilahkan untuk melanjutkan aksi mereka yaitu jalan kaki sepanjang kurang lebih 6 kilometer.

“Kita datang dengan baik-baik, di sana juga disambut baik. Kalau kata-kata diusir itu kan terlalu kasar, tujuan kita hanya ingin menyampaikan aspirasi tentang kondisi pekerja senin sela hampir dua tahun ini,” ujar Hendra pekerja seni asal Lasem, saat dihubungi media ini, Selasa pagi (10/8/2021).

Hendra menjelaskan, tujuan para pekerja seni turun ke jalan yaitu hanya melakukan aksi jalan kaki dari gapura perbatasan Kota Rembang bagian timur sampai ke gapura bagian barat. Mereka membawa bendera putih, alat musik dan kertas yang bertuliskan keluh kesah yang mereka alami selama pandemi covid-19.

Sesampainya di depan gedung kantor Bupati, imbuh Hendra, para pekerja seni berhenti sejenak untuk beristirahat sambil membentangkan kertas yang bertuliskan keluh kesah yang mereka alami selama pandemi covid-19. Mereka juga sempat masuk ke halaman kantor Bupati. 

Namun pada saat itu Bupati sedang ada kegiatan di rumah dinas yakni Vidcon Rakor evaluasi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dengan Gubernur dan Walikota/ Bupati se Jawa Tengah.
Oleh Satpol PP yang bertugas mereka diarahkan untuk menunggu di sisi timur gedung kantor Bupati dan mencari tempat yang teduh. Dikarena tujuan utama mereka adalah aksi jalan kaki bukan untuk bertemu dengan pejabat, para pekerja seni memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.

“Kita datang dengan baik-baik, disana juga disambut baik. Kalau kata-kata diusir itu kan terlalu kasar. Tujuan kita tidak untuk ketemu pak Bupati. Syukur- ketemu, kalau tidak ya memang tujuan kita tidak untuk ketemu,” kata dia.

Hendra mengungkapkan, jumlah pekerja seni yang ikut aksi juga hanya beberapa orang. Mengingat mereka juga harus menerapkan protokol kesehatan dalam melakukan aksinya tersebut.

“Kami tidak ada koordinator, awalnya cuma 5 orang yang memiliki keinginan yang sama. kemudian ada beberapa seniman yang ikut nyusul,” bebernya.

Dirinya juga menegaskan tidak ada aksi banting membanting alat musik saat melakukan aksi jalan kaki tersebut. Alat musik piano tersebut hanya diseret sambil berjalan kaki.

“Alat musik itu kita seret, dari gapura timur. Makanya jadi rusak karena diseret, jadi tidak dibanting, yang benar di seret selama jalan, ” imbuhnya.

Hendra meminta kepada para awak media di Rembang tidak membenturkan para pekerja seni dengan pemerintah kabupaten Rembang. Pasalnya mereka hingga saat ini menjalin hubungan baik dengan pemerintah Kabupaten Rembang.

“Tidak ada niatan kita untuk melawan Pemkab, kita tetap ingin menjalin hubungan baik dengan Pemkab Rembang. Agar sama-sama enak. Kita berharap, pentas seni segera dibuka dengan menerapkan aturan yang ada sesuai kondisi saat ini,” pungkasnya.


Sementara itu Fajrin, salah seorang anggota Satpol PP Rembang yang saat itu bertugas di Pos Kantor Bupati saat di mintai konfirmasi mengaku saat itu tidak tahu persis situasi aksi. Karena saat itu dia sedang di lantai II. “Saat saya turun, para pekerja seni sudah turun. Sehingga saya tidak tahu persis aksi mereka,” tutur Fajrin, Selasa pagi. (Daryono)

Lainnya

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sixteen − fourteen =

Back to top button