Pendidikan Dan Budaya

Abangireng Kaos, Desain Unik, Tetap Kuat Digilas Pandemi

PURWOREJO, detakjateng-Rindu kampung, pasti dirasakan oleh para perantau yang meninggalkan daetah kelahirannya untuk mencari nafkah. Sentimen kerinduan itulah yang coba dijual oleh Andi Setiawan dengan membuat produk sandang khas Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.
Berani meninggalkan zona nyaman sebagai karyawan non organik Bank Indonesia (BI) kala itu, ia kemudian berkreasi dengan desain-desain kaos yang unik. Desain-desain kaosnya pun tak sembarangan ia buat, harus tahu alur cerita sejarah dari sosok atau obyek yang akan ia jadikan gambar kaos.


“Pada dasarnya saya ini jualan ‘rindu’. Rindu akan kampung halaman, rindu masa kecil di mana para perantau pernah tinggal di Kabupaten Purworejo ini. Orang yang rindu, akan melalukan apa saja untuk mengobati kerinduannya. Maka, segmen jualan saya adalah para perantau yang berasal dari Kabupaten Purworejo,” jelas Andi saat ditemui, Kamis (18/11).
Untuk mendesain obyek wisata atau sosok pahlawan dari Purworejo, Andi harus mendatangi Dinas Pariwisata Budaya untuk mendapat cerita dan materi. Setelah itu, ia akan memadukan cerita tersebut dengan idenya yang kadang-kadang diberi sentuhan ‘underground’.

Filosofi Mendalam
Abangireng, adalah brand yang dipakai oleh pria bertato itu. Bukan hanya sekedar merk dagang, namun ada filosofi mendalam dari kata-kata gabungan dua warna tersebut.


“Saya dulunya ‘nakal’ lalu ingin dan berani berubah menjadi lebih baik. Ireng atau hitam melambangkan masa lalu saya. Abang atau merah simbol keberanian untuk berubah. Sengaja saya letakkan kata ‘abang’ atau merah di depan untuk menonjolkan sisi keberanian,” jelas Andi.
Untuk tempat produksi kaos sablon ini, Andi memanfaatkan rumah tinggalnya di Senepo Tengah No 33, RT 3 RW 4 Kelurahan/Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Ada puluhan desain gambar kaos yang pernah ia buat dipajang di bagian belakang show room.


Hebatnya, ia mempekerjakan karyawan difabel yang semuanya tuna rungu. Itulah cara Andi untuk memberikan kontribusi bagi kemajuan daerahnya.
“Sebelum pandemi ada lima karyawan, sekarang tinggal tiga. Pandemi membawa dampak luar biasa hingga saya terpaksa merumahkan dua karyawan. Satu karyawan saya atlet paralimpic, kemarin baru dapat medali di Papua,” katanya bangga.


Semangat Andi untuk menjadi pengusaha atau enterpreneur dengan meninggalkan setatus karyawan bank sentral patut diapresiasi. Kreativitas para pemuda semacam ini yang menjadikan ekonomi tetap tumbuh.


Berkat kegigihannya, kini ia diberi kesempatan oleh Pemkab Purworejo untuk menjual produknya di Galeri UMKM Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) Kulon Progo. Selain itu, Andi juga ditunjuk sebagai kordinator galeri UMKM Rindu di pool (garasi) Bis Sumber Alam Kutoarjo.


Untuk dapat memiliki kaos abangireng, kita hanya perlu merogoh kocek Rp85.000, kalau lengan panjang harganya Rp95.000. Sedangkan ukuran anak-anak, Andi membandrol dengan harga Rp45.000 saja. Kaos-kaos abangireng semuanya menggunakan bahan combat 24s, jadi nyaman dipakai.


“Dulu waktu booming, saya bisa menjual hingga 4 roll bahan perminggu (1 roll menghasilkan 100 potong kaos). Namun sekarang sudah berkurang jauh. Mungkin karena banyak kaos-kaos bertema sejenis yang menjadi kompetitor,” katanya.
Pandemi diakui Andi membuat usahanya babak belur, namun tetap bisa bertahan. Bahkan ia banyak melayani permintaan kaos untuk event daripada berjualan produk. Kini usaha kecil milik Andi makin bertumbuh setelah sempat diterjang pageblug Covid-19. Vashti Bidadari Taletha Thea

Lainnya

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8 + twelve =

Back to top button