Pemerintahan

Bidan Desa Harus Tinggal di Desa Tempat Bertugas

REMBANG, detakjateng – Pemerintah Kabupaten Rembang berencana membuat surat edaran, supaya bidan desa tinggal menetap di desa lokasi bertugas. Jangan seperti sekarang, masih ada bidan desa yang justru menetap di luar desa.

Sekretaris Daerah (Sekda) Rembang, Fahrudin menyatakan, manakala bidan menetap di desa area bertugas, akan menunjang kecepatan penanganan maupun efektivitas pendampingan.

Dengan cara tersebut diharapkan mampu menurunkan angka kematian ibu, angka kematian bayi, dan angka anak stunting.

“Saya akan membuat edaran ke seluruh jajaran kepala Puskesmas, bahwa nanti bidan desa harus tinggal di desa. Tidak boleh bidan desa nglajo dari luar desa. Ini nanti kita buatkan surat edaran, ” kata Fahrudin.

Bupati Rembang Abdul Hafidz  menjelaskan bayi stunting bisa dilihat dengan panjang kurang dari 47 cm untuk bayi perempuan dan kurang dari 48 cm untuk bayi laki-laki.

“Indonesia dirilis dari WHO, di Asia Tenggara tertinggi nomor 3. Masih di atas 24%. Padahal batasan maksimal itu, 20%. Di Rembang, sama. Angka stunting masih tinggi, “ paparnya.

Hafidz menyebutkan penyebab bayi lahir stunting diantaranya ibunya kurang gizi, bayi kurang perawatan, bayi kurang minum Air Susu Ibu (ASI) dan pernikahan kurang dari usia 19 tahun.

Mengacu data Dinas Kesehatan setempat, angka kematian bayi di Kabupaten Rembang tahun 2018 mencapai 94 kasus, 2019 86 kasus, tahun 2020 menjadi 60 kasus dan per bulan Agustus tahun 2021 ini sekira 50 kasus.

Sedangkan angka kematian ibu di Kabupaten Rembang pada tahun 2019 sebanyak 6 kasus, tahun 2020 naik menjadi 11 kasus. Untuk tahun 2021 berjalan, sudah kisaran 10 an kasus. (Daryono).

Lainnya

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 × three =

Back to top button