Kesehatan

Penanganan Stunting di Kabupaten Purworejo Terbaik Ke-5 se-Jateng

PURWOREJO, detakjateng – Penangananan stunting tidak hanya menjadi tugas dari Dinas Sosial Pengendalian Penduduk dan KB (DinsosdaldukKB) serta Dinas Kesehatan, tetapi menjadi tugas bersama semua OPD. Peran masyarakat ikut, perguruan tinggi serya stake holder terkait juga sangat penting dalam mencegah stunting.
Hal tersebut ditegaskan oleh Wakil Bupati Purworejo, Yuli Hastuti, dalam kegiatan koordinasi teknis pelaksanaan percepatan penurunan angka stunting Kabupaten Purworejo, Jumat (27/5). Dalam acara yang bertempat Aula Bappedalitbang Kabupaten Purworejo tersebut hadir pula Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Tengah, drg Widwiyono MKes, Kepala Bappedalitbang Sukmo Widhi Harwanto, Perwakilan Universitas Muhammadiyah Purworejo serta instansi terkait lainya.

“Prevelensi angka stunting di Kabupaten Purworejo tahun 2021 adalah 15,7 % berdasarkan hasil Survey Status Gizi Indonesia ( SSGI). Target di tahun 2022 adalah 12,2%. Secara nasional angka stunting Kabupaten Purworejo sudah cukup baik, akan tetapi tidak serta merta membuat kita lengah dan santai,” kata Yuli.

Perempuan yang menjabat sebagai Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Purworejo itueminta semua bergerak, bersinergi secara optimal untuk mencapai target penurunan stunting.

“Kerja keras dan kerjasama yang dimotori oleh Tim Percepatan Stunting yang sudah dibentuk dari tingkat Kabupaten, Kecamatan, Desa/Kelurahan, dan ujungnya pada Tim Pendamping Keluarga yang langsung berinteraksi dengan masyarakat. Saya berkeyakinan target 12,2% dapat kita wujudkan,” kata Yuli optimis.

Sementara itu, Kepala Kanwil BKKBN Jateng, drg Widwiyono mengatakan bahwa, pihaknya telah merekrut tenaga ahli yang ditempatkan di Kabupaten Purworejo untuk membantu percepatan penurunan stunting. Kabupaten Purworejo berada di posisi kelima terbaik tingkat Provinsi Jawa Tengah untuk persentase jumlah stunting dengan angka 15,7 %, dibawah angka nasional 24% dan Provinsi Jawa Tengah yang mencapai 20,9%.

Menurutnya, percepatan penurunan stunting difokuskan pada area pencegahan bukan pada pengobatan. Sehingga pendataan, pendampingan dan penyuluhan telah dimulai saat mendaftar sebagai calon pengantin hingga nantinya hamil dam melahirkan.

“Kami punya data di Kabupaten Purworejo dalam satu tahun ini akan ada kurang lebih 5.500 pendaftar nikah. Dari angka tersebut 20% diprediksi, jika melahirkan mempelai perempuannya berpotensi melahirkan anak rawan stunting. Maka, jumlah 20% inilah yang harus menjadi fokus kita untuk kita cari siapa yang masuk dalah kriteria rawan stunting dan kita lakukan pendampingan. Kita siapkan dari provinsi anggaran Rp3,5 miliar,” ungkap Widwiyono.

Dalam kesempatan ini, Kepala DinsosdaldukKB Purworejo, Ahmat Jainudin mengungkapkan, terdapat 28 desa di Kabupaten Purworejo yang menjadi lokasi fokus penurunan stunting. Karena di 28 desa itu, terdapat paling sedikit 2 balita stunting.

“Penanganan stunting juga menjadi fokus hingga di tingkat desa. Pada tahun 2020 sebesar Rp25.055.011.597 telah dianggarkan untuk stunting. Pada tahun 2021 naik menjadi Rp28.638.549.271 dan tahun 2022 ini masih dalam proses finalisasi yang kita harapkan akan terus bertambah untuk mengoptimalkan upaya penurunan stunting,” harap Kadinsos. ADS.

Lainnya

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

four × four =

Back to top button