Pemerintahan

Anggota DPR RI Kampanyekan Kopi Petik Merah

PURWOREJO, detakjateng – Pertanian merupakan salah satu sektor yang tidak terpengaruh dengan adanya pandemi Covid-19. Salah satu hasil pertanian yang kini mulai meningkat kuantitas ekspornya adalah kopi.

Hal itu disampaikan oleh Koordinator Kelompok Substansi Pengolahan Ditjen Perkebunan Kementan RI, Supri Hartono dalam Bintek Peningkatan Produktivitas Tanaman Kopi dan Teknik Pengolahan Kopi di Ganeca Convention Hall. Bintek ini diselenggarakan oleh Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Dapil Jateng VI (Purworejo, Magelang Raya, Temanggung dan Wonosobo), Vita Ervina bersama dengan Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementan RI.

“Pasar ekspor kopi meningkat, generasi muda sekarang juga sudah menggemari kopi. Muncul pegiat kopi dan cafe-cafe, menjadi peluang pagi petani kopi. Apalagi Purworejo ini dekat dengan Bandara internasional Yogyakarta (YIA). Jika potensi imi bisa dikembangkan di Purworejo, saya kira sangat besar. Cafe atau agrowisata dipadu dengan kuliner khas Purworejo akan mendorong wisatawan datang,” kata Supri.

Senada, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Purworejo, Hadi Sadsila, memaparkan perkembangan pegiat dan penikmat kopi di Purworejo. “Kopi Purworejo luar hiasa perkembangannya. Mulai dari petani, pengusaha ataupun penggemarnya. Jika kita lihat, sekarang ini banyak sekali kedai kopi bermunculan. Dulu saya takut kopi, karena keluarga saya itu tekanan darahnya tinggi. Tapi ternyata, kopi tanpa.gula itu sehat, jadi sudah beberapa tahun ini tiap pagi saya minum kopi tanpa gula,” kata Hadi Sadsila.

Untuk lebih meningkatkan kualitas kopi, teknik memetiknya pun harus benar. Saat ini sedang digalakkan kopi petik merah, hanya buah kopi yang berwarna merahlah yang harus dipetik. Karena buah kopi yang hijau akan mengurangi rasa dan kualitasnya.

“Petani harus cerdas, sekarang kita kampanyekan petik merah. Petani kopi harus disiplin, mulai mengubah kebiasaan petik kopi. Edukasi ini yang selalu kita sampaikan pada para petani. Memang butuh waktu lama, tapi asal petani disiplin saya kira akan berhasil,” kata Vita Ervina usai membuka acara Bintek yang diikuti 70 petani kopi penerima manfaat intensifikasi peningkatan dengan pupuk organik cair.

Menurutnya, Kopi sebagai salah satu produk agroindustri pangan yang digemari oleh masyarakat, keberadaannya sudah menjadi salah satu bagian dari kehidupan sehari-hari. Tidak hanya sekedar minum kopi, kopi sudah menjadi budaya atau kebiasaan bagi sebagian besar masyarakat baik di dalam negeri maupun manca negara.

“Kebutuhan masyarakat akan kopi yang semakin hari makin meningkat, ini menjadi peluang besar khususnya bagi masyarakat di Kabupaten Purworejo untuk mengembangkan kopi hasil dari perkebubannya sendiri,” ujarnya.

Secara topografis merupakan wilayah beriklim tropis basah dengan suhu antara 19-28 derajat celcius memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan kopi khususnya robusta. Meskipun secara garis besar Kabupaten Purworejo sebagai sentra komoditas tanaman pangan, tetapi dengan beberapa dataran tinggi yang diantaranya lereng Gunung Pupur, Gunung Mentosari, Gunung Rawacacing, lereng-lereng di Pegunungan Menoreh sangat potensial untuk pengembangan tanaman kopi. Sesuai data yang ada di BPS pada tahun 2020 luasan perkebunan kopi di Purworejo adalah 529 Ha dengan produksi mencapai 171 ton, meskipun bantuan belum mencakup secara keseluruhan tetapi tidak menutup kemungkinan untuk dilakukan perluasan kegiatan intensifikasi kopi di tahun kedepan.

“Dengan bintek dan berbagai pelatihan, petani yang selama ini hanya bisa menjual hasil mentahnya, ke depan bisa diolah terlebih dahulu supaya harganya bisa lebih baik. Dan ini menjadi tugas bersama khususnya pemerintah, bagaimana bisa memfasilitasi petani untuk bisa menjual hasil kopinya dengan harga yang layak sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan,” harap Vita. (NING)

Lainnya

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 × 3 =

Back to top button