Pemerintahan

Penggarap Tanah Wakaf Minta 50% Uang Ganti Rugi Tanam Tumbuh Quarry Wadas, Kemenag: Maksimal 10%

PURWOREJO, detakjateng-Pelaksana Pengadaan Tanah (P2T) PSN Bendungan Bener, Purworejo, Jawa Tengah, kembali melaksanakan musyawarah bagi warga terdampak quarry di Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Selasa (25/10/2022).

Sebanyak 44 orang pemilik 65 bidang tanah terdampak sepakat bentuk ganti untung yang mereka pilih adalah uang.

Dari jumlah tersebut, ada satu bidang yang merupakan tanah wakaf, karena itulah P2T mengundang Kepala Kemenag Kabupaten Purworejo dan Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) Purworejo. Wakaf berupa tanah seluas 2.600 M2 itu diberikan oleh seorang warga bernama Samsi kepada Masjid Nurul Huda Dusun Krajan, Desa Wadas. Selaku nadzir atau orang yang berhak untuk bertindak atas harta wakaf adalah M Bachrudin. Hingga musyawarah usai, masih belum ada kata sepakat antara Kemenag dan nadzir serta warga penggarap mengenai pembagian uang ganti rugi tanam tumbuh di atas tanah wakaf tersebut.

“Ganti untung yang kami terima sebanyak kurang lebih Rp1,4 miliar. Rinciannya, ganti untung tanah Rp500 juta dan untuk tanam tumbuhnya sebanyak Rp900 juta. Tadi dari pihak Kemenag menerangkan, aturannya untuk membeli tanah lagi semua. Sedangkan para penggarap yang menanam pohon minta 50% dari ganti rugi tanam tumbuh (Rp900 juta),” jelas M Bachrudin usai berunding dengan Kepala Kemenag Kabupaten Purworejo, Fatchur Rochman dan perwakilan BWI.

Masjid di Dusun Krajan tersebut sebelumnya adalah base camp tempat para warga penolak quarry melakukan kegiatan. Masjid itu pulalah yang menjadi saksi bisu saat ricuh warga ketika menolak pengukuran lahan awal tahun 2022 lalu.

“Tadi pihak Kemenag menyampaikan, baru akan diusulkan (permintaan 50% dari ganti rugi tanam tumbuh) ke Semarang (Kanwil Kemenag). Kalau para penggarap dibweri 10% ya keberatan karena dulu perjanjiannya kan 50% dari tanam tumbuh,” kata M Bachrudin.

Sementara itu, Kepala Kemenag Kabupaten Purworejo, Fatchur Rochman menjelaskan bahwa, aturannya, semua hasil uang ganti untung seharusnya dibelikan tanah. “Tapi dari nadzir minta ganti untung tanam tumbuh digunakan untuk kemakmuran masjid. Kami harus komunikasi ke Semarang, fatwanya seperti apa. Kalau memang boleh digunakan untuk kemakmuran (membangun) masjid ya..bisa di gunakan untuk membangun,” kata Fatchur Rohman.

Mengenai tuntutan penggarap tanah yang meminta 50% dari uang ganti rugi tanam tumbuh, Fatchur menjelaskan bahwa, dalam aturan maksimal hanya 10%. Tapi pihaknya akan tetap menyampaikan permintaan warga penggarap ke Kanwil Kemenag Jateng.

Sementara itu, Ketua P2T PSN Bendung Bener yang juga Kepala BPN Purworejo, Andri Kristanto mengatakan bahwa, progres pengadaan tanah quarry di Desa Wadas mencapai 93,3%. Dari target 617 bidang, hingga saat ini hanya 35 bidang yang belum terinventarisasi dan teridentifikasi.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pengadaan tanah Bendungan Bener dari Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO), Hery Prasetyo mengatakan bahwa, total yang dibutuhkan untuk quarry seluas 114 hektar. (NING)

Lainnya

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

nineteen + nineteen =

Back to top button